Siswi SMA/Pelajaran sosiologi
Snow Manipulation
Sepeninggalan ayahnya yang terpisah sejak penyerangan oleh Tartaros, Milla tinggal berdua bersama ibunya di sebuah perumahan tak jauh dari dermaga. Ibunya mengelola sebuah warung makan kecil-kecilan yang disinggahi nelayan dan pedagang. Walau pun hidup sederhana, mereka berdua melanjutkan hidup dengan bahagia.
Iklim yang dingin membuat Milla menjadi sering sakit. Ibunya menyisihkan hasil penjualan untuk membelikannya syal dan payung lipat. Ia berjanji akan membawa Milla pindah ke tempat yang lebih hangat. Sejak saat itu syal dan payung lipatnya menjadi barang yang susah lepas dari jangkauan Milla. Ia tidak masalah tinggal dimana atau pun dihadiahkan apa asal berasa di sisi ibunya, setidaknya itu yang Milla pikirkan.
Dermaga tidak bisa lebih dingin dari ini, seluruh dunianya membeku saat mendengar ibunya terjatuh ke laut karena menyelamatkan orang tua yang terpeleset. Jasadnya tidak ditemukan, namun sudah dipastikan terkena hipotermia. Milla berkabung untuk waktu yang lama. Ia tak bisa mengenali siapapun, emosinya terhenti, semua jadi tidak berarti.
Seolah tak rela meninggalkan, butiran-butiran kristal salju jatuh mengelilingi Milla. Salju yang menumpuk membentuk sebuah tangan yang membelai rambut Milla, kemudian wujudnya berkembang menjadi sebuah jiwa. Seluruh tubuhnya terbuat dari salju, bahkan tatapannya sedingin es. Namun terasa nuansa keibuan di dalamnya. Milla mengenali sosok itu. Walau hanya tinggal jiwanya, ibunya masih ada di sampingnya. Memberi Milla kekuatan untuk melanjutkan hidup sekali lagi.