Zion merupakan seorang sopir bus AKAP Jurusan Faizabad
Zion tumbuh besar dalam kondisi yang sangat sulit. Ekonomi keluarga yang rendah dan pendidikan yang terputus adalah sebagian dari cobaan yang ia hadapi. Ditambah lagi, ia dibesarkan di lingkungan yang kacau. Rumah bordil dan tempat judi menjadi pemandangan biasa dalam hidupnya. Teman-teman sepergaulannya pun mayoritas bukanlah orang baik. Di rumah, kondisinya juga tidak lebih baik. Ayahnya seorang pemabuk yang gemar berhutang untuk berjudi. Parahnya, ayahnya kerap melampiaskan kemarahan dengan menjadikan istri dan anak-anaknya sebagai samsak.
Saat Zion berumur 15 tahun, insiden tragis terjadi. Ayahnya yang sedang mabuk berat menginjak tubuh ibunya hingga tulang belakang wanita itu patah. Zion murka. Ia menghajar ayahnya hingga babak belur, bahkan nyaris membunuhnya. Beruntung, adiknya, Noiz, yang saat itu berusia 10 tahun, berhasil mencegahnya. Setelah kejadian tersebut, Zion dengan tegas mengusir ayahnya dan memperingatkannya agar tidak pernah kembali. Ia bahkan mengancam akan membunuh ayahnya jika berani menampakkan diri lagi.
Ibunya mengalami trauma berat akibat kejadian itu dan hanya mampu terbaring di tempat tidur. Zion pun mengambil alih peran ibunya. Ia berhenti sekolah dan mulai bekerja sebagai sopir bus yang melayani rute dari Kota Faizabad ke Kota Darlington. Fokusnya hanya pada bekerja, dan pikirannya penuh dengan satu hal: uang. Untuk menambah penghasilan, Zion juga menerima pekerjaan sampingan, seperti mengantar barang berat dengan mobil pickup, memperbaiki mobil, hingga mencuci kendaraan. Ia rela melakukan apa saja demi mengisi dompetnya, karena satu pertanyaan terus menghantuinya: “Besok harus makan apa?”
Zion sangat perhitungan dalam hal uang. Ia bahkan tidak mau melunasi utang-utang yang ditinggalkan ayahnya. Jika para rentenir datang menagih, ia tidak segan-segan mengusir atau menghajar mereka. Baginya, utang pria tua itu bukan tanggung jawabnya. Zion juga dikenal pelit. Ia enggan memberi pinjaman kepada relasi, bahkan untuk membelikan mainan adiknya pun ia menolak mentah-mentah. Semua penghasilannya diatur ketat: sebagian besar untuk membeli makanan bagi ibu dan adiknya, dan sisanya ia tabung untuk kebutuhan darurat.
Zion sangat menyukai barang murah atau diskon. Meski begitu, ia terbiasa hidup hemat, bahkan sering berpuasa atau hanya makan apel yang ia beli di pasar atau kadang mencurinya dari pohon tetangga. Meski orang-orang kerap menyebutnya pelit, Zion hampir tidak pernah menggunakan uangnya untuk kesenangan pribadi.