Cassius berasal dari suku Pygmy, sebuah suku kecil yang sangat mengagumi dan menyembah bulan. Bagi suku ini, bulan bukan hanya sumber cahaya malam, tapi juga menjadi patokan hidup sekaligus dasar dari seni berpedang yang mereka pelajari dan wariskan turun-temurun.
Ia lahir dari pasangan pejuang yang setia menjaga desa mereka dari berbagai ancaman. Namun, saat Cassius berusia 4 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia saat melaksanakan tugas mereka. Sejak itu, Cassius tinggal bersama kakeknya yang sudah sangat tua dan mulai harus belajar mandiri.
Setiap hari, Cassius menghabiskan waktunya untuk berburu dan merawat kakeknya. Meskipun masih kecil dan kehilangan orang tua begitu cepat, ia bertekad untuk melanjutkan perjuangan mereka. Dengan tekun, ia mulai berlatih pedang meskipun usianya masih di bawah umur.
Latihan demi latihan ia lakukan tanpa henti. Kerja kerasnya akhirnya mendapat pengakuan dari ketua suku yang memberinya sebuah pedang bermaterial unontainium. Pedang itu tersebut beresonansi dengan cahaya serta kegelapan di sekitarnya, sehingga Cassius mampu melengkapi teknik berpedang miliknya.
Namun, karena tanggung jawab merawat kakeknya, Cassius cenderung menarik diri dari kehidupan sosial sukunya. Hingga dewasa, Ia jarang berinteraksi dengan warga lain dan hanya terlihat saat berburu, berlatih, dan melakukan patroli malam di sekitar desa.