Reverse Mirror: When The Heaven Falls
Chapter 3

A God Among Mortals Part I

14,639 words · ~67 min read

Satu minggu telah berlalu sejak pemerintah Gale menerapkan pajak sebesar lima puluh delapan persen sebagai bentuk legalitas kepemilikan budak dari ras Terra. Kebijakan keras yang pada awalnya diumumkan untuk menyelamatkan arus ekonomi dan perputaran kas itu justru semakin memperjelas posisi Terra di mata Averion. Hak mereka dianggap telah lenyap. Bagi sebagian Gale, keadaan itu menjadi pembenaran untuk memperlakukan Terra sesuka hati.

Kini kebijakan kembali berubah.

Dalam forum dunia yang membahas perbudakan secara terbuka, pemerintah memutuskan untuk membeli kembali budak-budak yang telah diberi tanda kepemilikan. Harga pembelian awal dan pajak yang telah dibayar akan dikembalikan kepada pemilik. Aturan itu bersifat wajib. Terra yang tidak memiliki tanda dianggap ilegal; mereka dapat diambil paksa oleh pemerintah, atau dilenyapkan tanpa kompromi.

Bagi sebagian pemilik yang nyaris tenggelam dalam utang akibat pajak, keputusan itu terdengar seperti berkah. Bagi mereka yang kehilangan budak, kebijakan tersebut menjadi ancaman. Pemerintah menganggap hilangnya Terra sebagai bentuk penyelundupan. Legalitas pekerjaan pemilik dapat dicabut sampai budak yang hilang ditemukan kembali.

Di tengah semua itu, muncul pula tindakan-tindakan yang dianggap melampaui kodrat. Gale dan Terra mulai melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan: mengabaikan kebencian, berusaha menyejajarkan kedua ras, atau bahkan menghapus ciri tubuh yang membedakan mereka.

Sejak kecil, kedua ras mengenal kisah tentang Enigma - para pengawas semesta Reverse Mirror. Mereka diajarkan bahwa Averion adalah dunia Gale, Overrealm adalah dunia Terra, dan penolakan antara kedua dunia bukan sekadar naluri, melainkan bagian dari keseimbangan. Gale tetap Gale. Terra tetap Terra. Keduanya harus berlawanan agar sesuatu yang jauh lebih tua tetap terkunci.

Axiom.

Dunia asli yang seharusnya tidak pernah kembali.

Namun batas itu kini semakin kabur. Dan jika Enigma benar-benar turun tangan, tidak ada seorang pun yang tahu apakah mereka akan bertindak sebagai hakim, penjaga, atau pembuka pintu menuju kebenaran yang selama ini disembunyikan.

***

Di hutan Nexvalis, malam masih hidup dengan suara dedaunan dan langkah-langkah kecil hewan yang bersembunyi di balik semak.

Gabriel berjalan santai sambil bersenandung. Ia baru kembali dari gereja dan sebenarnya tidak berniat berlama-lama. Tujuannya turun dari kapal hanyalah mencari informasi sebelum kru lain ikut bergerak. Masalah Gale dan Terra bukan sesuatu yang ingin ia campuri.

Tidak jauh darinya, Lillian Nocturne baru kembali dari kota. Sejak melarikan diri bersama Helvetica seminggu lalu, ia memilih hutan sekitar Nexvalis sebagai tempat bersembunyi. Tanduknya telah hilang, membuat banyak Gale tidak langsung mengenalinya sebagai Terra, tetapi naluri permusuhan tetap membuat mereka gelisah di dekatnya. Karena itu ia rutin keluar hanya untuk mencari informasi, kemudian kembali sebelum menarik terlalu banyak perhatian.

Malam itu, Lillian baru saja memetik buah ketika sosok berambut merah muda itu muncul di jalurnya.

Ia berhenti.

Untuk pertama kali semenjak jatuh ke Averion, Lillian tidak merasakan kebencian naluriah apa pun dari seseorang di depannya.

Rasa penasaran membuatnya mendekat terlalu jauh. Tubuh jangkungnya membungkuk sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

Gabriel memiringkan kepala. "Hm?"

Lillian tersadar dan mundur setengah langkah. "Ah, maaf."

"Ngg, aku tidak masalah, tapi... kenapa kau melakukan itu?"

"Anda punya aroma yang indah."

Jawaban itu hanya menambah kebingungan Gabriel.

Lillian ingin bertanya lebih jauh, tetapi sebelum percakapan berlanjut, seseorang turun dari dahan pohon tidak jauh dari mereka.

Andrea Zarro telah berada di sana cukup lama.

Organization 7 menerima tugas untuk melacak dua Terra yang kabur setelah menghancurkan tanduk mereka. Tidak ada foto yang cukup jelas. Yang Andrea miliki hanya deskripsi: satu berambut pirang dengan gaya mencolok; satu lagi berambut ungu panjang. Warga sekitar beberapa kali melaporkan rasa benci aneh terhadap seseorang yang tampak seperti Gale biasa.

Ketika melihat Lillian, Andrea langsung tahu.

"Buat apa kalian di hutan seperti ini, eh?" Ia memasang seringaian tipis. "Memangnya kalian tidak takut ada hewan buas di sini yang bisa menerkam kalian?"

Ia berhenti sesaat.

"Atau mungkin... kalian akan ditangkap dari belakang?"

Gabriel menoleh kepadanya. "Uhh, aku hanya baru saja pulang dari gereja. Memangnya hewan buas macam apa yang bisa menangkapku? Ano ne, aku tidak ada urusan lagi di sini, jadi aku mau pulang...."

"Hati-hati di jalan," ujar Lillian kepada Gabriel. Ia memetik satu buah lagi dan meletakkannya di tangan gadis itu. "Pastikan mengikuti jalan setapak agar tidak tersesat."

Lalu ia menatap Andrea.

"Binatang buas tidak akan menjadi masalah jika kita tidak menunjukkan ketakutan ataupun permusuhan terhadap mereka - kecuali mereka sedang sangat lapar. Meski begitu, pada akhirnya mereka hanya makhluk hidup yang tidak bisa melakukan apa-apa setelah kematian."

Dalam hati, Lillian membaca mantra.

With the binding of realms undone, let the seal open while the unbreakable force awaken.

Sigil di tangannya tertutup sarung tangan. Serbuk titanium tersebar sangat tipis di permukaan tanah, terlalu halus untuk mudah terlihat. Bukan hanya ranjau; serbuk itu juga akan menjadi alat pendeteksi perubahan energi di sekelilingnya.

Andrea mengangkat bahu. "Terserah. Tujuanku bukan untukmu."

Ia membiarkan Gabriel pergi beberapa langkah, lalu menaruh satu tangan di pinggang.

"Hoo, filosofis juga kau. Tapi apa pernah kau terpikir, ada hewan buas yang mengincar mangsanya... hanya untuk senang-senang?"

Andrea menggaruk belakang kepalanya. "Memangnya tidak sakit mematahkan gadingmu? Rasanya seperti mematahkan kakimu sendiri, kan?"

Lillian tidak menjawab.

"Whoops, aku di sini bukan untuk bicara. Tapi kalau kau mau mengikutiku, tak ada yang terluka lagi kok. Kecuali kau memang sudah punya rute melarikan diri sebelum aku menghampirimu di sini."

Andrea mengangkat tangan.

"The wheel turns, your fate has been decided since the seal opens."

Ia menjentikkan jari.

Gelombang suara melesat menuju Lillian.

"Hehe, terima kasih. Tapi aku mau ambil foto sebentar, boleh?"

Gabriel ternyata belum benar-benar pergi. Entah sejak kapan, ia sudah berada di sisi Lillian sambil merangkul bahunya dan mengangkat ponsel.

"Katakan cheese!"

Lillian memberikan senyum tipis.

"Oh, ini bagus. Aku jadi ada kenang-kenangan. Kalau begitu sampai jum-"

Bip. Bip. Bip. Bip.

Gabriel membeku.

Ia mengeluarkan perangkat kecil menyerupai pemutar musik dari sakunya. Alarm itu dibuat untuk memberitahunya jika sesuatu terjadi pada pesawat yang membawanya kemari.

"... Oh, Tuhan. Jangan bilang aku akan terdampar di sini dalam waktu lama...."

Gelombang suara Andrea mendekat.

Gabriel menjentikkan jari. Gelombang lain tercipta dengan fase yang berlawanan, bertabrakan dengan serangan Andrea dan melemahkannya melalui interferensi destruktif.

"Oops, maaf~"

Tubuhnya berubah. Keagungan yang selama ini disembunyikannya muncul dalam bentuk Archangel. Tanpa memberi waktu bagi siapa pun untuk bertanya, Gabriel terbang meninggalkan hutan.

"Hati-hati di jalan," ujar Lillian sekali lagi.

Setelah Gabriel lenyap dari pandangan, fokusnya kembali kepada Andrea.

"Aku tidak mengerti maksud Anda. Sepertinya binatang buas yang Anda maksud adalah diri Anda sendiri. Mulai dari sini, aku hanya membela diri."

Titanium membentuk armor di sekujur tubuhnya, lengkap dengan sayap dan pedang. Lillian melesat. Ia menggunakan punggung pedang, bukan sisi tajamnya, untuk mencoba melumpuhkan Andrea.

Andrea menahan tebasan dengan lengan.

"Tchih, hidup macam apa yang kau jalani di duniamu, Terra? Sayangnya kau kehilangan kesempatan menghabisiku."

Tangannya menjentik tepat di dekat telinga Lillian. Ledakan suara mendorong keduanya menjauh.

Butiran titanium yang tersebar menangkap perubahan energi lebih cepat daripada mata. Lillian membentuk lempengan pelindung sebelum serangan berikutnya tiba.

"Klaim Anda tidak berdasar. Jika aku memang seperti yang Anda sebutkan, gadis yang sebelumnya pergi mustahil bersifat bersahabat."

Ia menciptakan pilar-pilar titanium dan tongkat-tongkat tumpul yang melesat ke arah Andrea.

"Aku ingin memastikannya sekali lagi. Anda tidak memiliki niatan untuk menghentikan omong kosong ini, kan?"

Andrea mengembangkan sayap bercahaya dan naik ke udara.

"Huh? Urusanku bukan dengannya. Sudah kubilang, urusanku kemari adalah kau."

Tekanan suara menghantam pelindung Lillian.

"Lemah!!"

Salah satu pilar mengenai sayap Andrea. Ia mendesis.

"Tchih. Kau tak punya nyali membunuh, tapi sepertinya kau masih punya otak. Tapi yah, perintahnya kau harus dibawa hidup-hidup jadi aku tak bisa melakukan banyak hal padamu. Jadi kau mau aku seret dari leher atau mengikutiku baik-baik?"

Lillian tertawa kecil. "Anda terlihat percaya diri - untuk seseorang yang sedang babak belur. Apa Anda masih mempunyai senjata rahasia?"

Tongkat-tongkat tumpul berubah menjadi pedang. Kali ini arahnya menuju kaki, paha, tangan, dan lengan Andrea.

"Tapi dari tadi Anda berbicara tentang perintah untuk menangkapku. Memangnya siapa yang memerintahkan Anda? Anda yakin tidak salah orang?"

Andrea menghindari serangan, bahkan sempat merebut salah satu pedang titanium.

"Babak belur? Jika kau bilang segini babak belur berarti memang hidupmu di duniamu terlalu mudah."

Ia mendekat. "Sayangnya seluruh dunia ini sudah mengincar kepalamu. Tapi yang memesan jasaku? Tentunya pemilikmu."

"Sepertinya Anda benar-benar salah orang. Lagipula, jika seluruh dunia mengincarku, mustahil hanya Anda yang ada di sini."

Lillian menyadari sesuatu sejak bertemu Gabriel: tanda kepemilikan pada tubuhnya telah hilang. Ia tidak tahu alasannya. Ia juga tidak punya waktu untuk menyelidikinya sekarang.

Andrea masih menggenggam pedang titanium.

"Ah, menggenggam benda itu bukan solusi yang cerdas."

Pegangan pedang berubah. Duri tajam muncul dari bagian yang berada dalam telapak Andrea. Ia refleks melemparkannya, tetapi darah sudah mengalir dari tangannya.

"Sebenarnya Anda itu apa? Mafia?"

Andrea menjilat darah di telapak tangannya. "Mafia, huh? Aku kenal mafia. Sayangnya aku sendiri bukan mafia. Memangnya penting ya aku siapa?"

"Entahlah. Mungkin identitas Anda menentukan aku harus membunuh atau tidak."

Ratusan pedang melesat mengejar Andrea.

Namun itu hanya lapisan terluar dari rencana Lillian. Serbuk dan pilar yang tersebar sejak awal bergerak serempak dan menutup di sekeliling Andrea, membentuk penjara titanium.

"Sampai jumpa lagi."

Lillian terbang meninggalkan hutan.

"Hmmm, sayangnya kau tidak ada niat membunuh."

Andrea mendecih dari dalam penjara. Ia mengeluarkan gagang senjata dari balik jaket. Hadiah dari Henry dan Hymn itu memanjang menjadi pedang laser. Titanium cepat menahan panas; ia harus bekerja cepat. Beberapa tebasan memotong bagian pilar yang menahannya. Andrea menendang potongan tersebut sampai terbuka celah.

"Mau kabur, huh."

Ia mengembangkan sayap dan melesat mengejar.

***

Alarm yang sama masih berbunyi di telinga Gabriel ketika ia tiba di sebuah lahan kosong di Nexvalis.

Di antara pepohonan, Vanguard-03 menunggu dalam mode cloaking. Gabriel melakukan autentikasi biometrik dan masuk. Life support menyesuaikan atmosfer kabin begitu pintu tertutup.

Ia langsung duduk di kursi pilot dan mengaktifkan konsol utama.

"Gabriel di sini, apa yang terjadi di sana? Aku menerima sinyal darurat. Kapten Charlesvin, tolong laporkan status kapal."

Jaringan satelit mini menampilkan proyeksi orbit Reverse Mirror. Kapal induk mereka mengalami kerusakan. Di dekatnya terdapat sebuah kapal asing yang tidak dikenali.

"Siapa mereka...?"

Gabriel memperbesar citra dan menjalankan analisis spektral. Tidak ada kecocokan basis data.

"Omong-omong, aku melihatnya. Kapal itu mungkin yang menyebabkan tabrakan. Aku akan mengaktifkan LIDAR scan dari orbit untuk mendapatkan detail lebih lanjut."

Sistem pemetaan laser mengurai bentuk kapal misterius. Di baliknya, sesuatu yang jauh lebih besar tertangkap kamera.

Bola mata.

Gabriel baru menyadari bahwa benda itu bukan bintang.

"Aku akan segera kembali ke sana."

Ia menyalakan pre-flight sequence. Fusion thrusters terisi, gravity dampeners menyesuaikan output.

"Vanguard-03 bersiap untuk peluncuran. Mengaktifkan sistem navigasi dan sinkronisasi dengan jalur penerbangan kapal induk."

AI menjawab, "Sistem penerbangan online. Estimasi waktu mencapai Pesawat Lintas Semesta Rhetoric Soul: enam menit empat puluh dua detik. Menganalisis lintasan optimal... Perhatian: objek asing masih berada di dekat kapal induk."

Gabriel mengaktifkan adaptive shielding.

"Throttle lima puluh persen... tujuh puluh lima... full burn."

Vanguard-03 melesat menembus atmosfer menuju orbit.

***

Beberapa saat sebelumnya, kapal lintas semesta milik Regalis telah kehilangan ketenangannya.

Sebuah kapal asing sengaja bersinggungan pelan dengan badan mereka, cukup untuk mengguncang struktur dan menggeser lintasan.

"Darurat, dengan Charlesvin," suara kapten terdengar melalui interkom. "Kapal mengalami gangguan, saya ulangi kapal mengalami gangguan. Untuk keadaan bersiaga, pastikan berkumpul ke area pilot."

Charlesvin mengambil kendali manual.

Di quarter lain, Morgana Levian Faeris sedang melukis vas bunga ketika guncangan merusak garis di kanvasnya.

"Aahhh... rusak deh."

Interkom membuatnya meninggalkan lukisan itu dan menuju bridge.

"Sesuatu menabrak sisi samping kapal, kita masih tak tahu apa itu," lapornya setelah membuka diagram kerusakan. "Aku sudah menutup pintu darurat agar tak ada udara yang keluar. Bagaimana menurutmu?"

Kreshnik duduk di sisi Charlesvin sebagai co-pilot. "Kerja bagus, Ms. Morgana. Kecepatan sudah maksimal, tapi kita sepertinya belum keluar dari lintasan bahaya. Kita punya dua pilihan: menentukan rute alternatif, atau menghadapi ancaman yang datang."

Ia memeriksa kerusakan dan menggunakan resonansinya sebagai sensor terhadap struktur kapal.

"Ms. Morgana, tolong akses rekaman terakhir dari kamera yang rusak."

Mona mengangguk. "Beberapa bagian sudah dicek dan sepertinya tak ada yang rusak parah. Ada yang terluka dan... sayangnya kita kehilangan tiga orang."

Ia memutar rekaman kamera dalam gerak lambat.

Layar menunjukkan kehampaan yang mendadak memadat. Lalu sebuah iris mekanik raksasa memenuhi pandangan.

Bola mata itu berada di pusat tatanan surya, menjadi poros yang memancarkan energi ke segala arah. Tidak ada matahari seperti yang mereka kenal. Hukum ruang dan waktu di sekitar benda itu terasa terdistorsi.

Kelopak mata raksasa itu menutup tepat sebelum tabrakan terjadi.

Charlesvin menahan kemudi. "Kreshnik, tolong laporan energi dan sumber daya yang tersedia saat ini. Mona, terus perhatikan perkembangan bagian kapal dan aktifkan pertahanan pada kedua sisi. Charles, siapkan senjata mesin. Jangan menyerang hingga ada perintah."

Mona mulai mengaktifkan sistem pertahanan.

"Sangat disayangkan aku tidak tahu apa itu, tapi sepertinya benda itu hidup."

Komunikasi Gabriel masuk.

"Dengan Kapten Charlesvin di sini," jawab Charlesvin. "Kami sedang dalam adrenalin tinggi karena suatu ancaman hingga beberapa bagian rusak. Jika memungkinkan kami perlu pengarahan untuk jalur aman dan penanganan baru. Apakah memungkinkan kami untuk mendarat di suatu tempat, Gabriel?"

Sebelum jawaban itu menyelesaikan kecemasan mereka, pintu kabin belakang terbuka paksa.

Alarm merah menyala.

"Pintu belakang terbuka. Harap hati-hati dengan kemungkinan penyusup masuk."

"Ada yang membobol salah satu pintu pesawat dan sekarang udara mulai keluar!" teriak Mona. "Semua personel diharapkan menjauhi lorong B12. Diulangi, semua personel diharapkan menjauhi lorong B12."

Ia menurunkan airlock darurat dan menampilkan kamera lorong di monitor utama.

Di ujung lain kapal, Andreas keluar dengan pedang di pinggang. "Aku dengar peringatannya. Apa ada yang terluka? Di mana dua yang lain? Apa ada yang masih di luar? Aku akan mengecek mereka."

Tidak jauh darinya, Glenn Roosevelt sedang menahan kebocoran udara menggunakan sulur tanaman. Tiga kru yang hampir tersedot keluar telah ia baringkan bersebelahan.

"Aku baik-baik saja," katanya. Ia memegangi kepala yang masih berputar. "Aku kehilangan kacamataku."

Dua sosok berjalan melewatinya menuju area pilot.

Fen dan Lian.

Fen memang sengaja menabrakkan kapalnya ke kapal Regalis. Teknologi yang mirip membuatnya bisa membobol sistem dengan relatif mudah. Tujuan awalnya lebih seperti kunjungan dan penyelidikan, tetapi keadaan berubah lebih jauh dari rencananya.

Lalu suara lain menyusup ke seluruh celah kapal.

"Slow down. No need to rush, captains."

Kecepatan kapal menurun tanpa perintah.

Alarm padam.

Pintu yang terbuka menutup sendiri.

Waktu berhenti.

Sistem komunikasi, radar, sensor, dan kontrol mati seketika. Namun para penumpang tetap mampu bernapas dan berpijak, meski logika fisika di sekitar mereka tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya.

Sang Pencipta berdiri di antara mereka dalam wujud fana.

"Apa yang kalian lihat di dunia ini adalah cerminan dari pemahaman kalian yang terbatas. Kalian tidak pernah berada di tengah bahaya dalam pengawasanku."

Ia mengangkat tangan. Ruang bergetar. Kamera menampilkan dua kapal yang seolah menghilang dari ruang biasa, berpindah ke dimensi lain.

Di balik jendela, bola mata raksasa kembali terbuka. Irisnya memantulkan galaksi yang berputar dalam kehendak ilahi.

Deus X Machina.

Tedros menyentuh dinding kapal, menempelkan telinga pada struktur logam. Kapal itu bukan sekadar mesin. Fragmentasi semesta yang hancur telah disatukan dengan sihir menjadi bentuk baru, memaksa para penghuninya terus bergerak dalam sisa kebinasaan.

Ia menoleh kepada semua awak.

"My name is Tedros Alucard. And this, is my magnum opus - the Reverse Mirror. Fate had already woven our meeting long before we finally crossed paths."

Kreshnik menelan kegelisahan dan memperkenalkan diri. "Kreshnik. Kami dari Rhetoric Soul. Maafkan kami apabila terlalu lancang datang kemari. Kami datang karena mencari keberadaan Ex Hoc Mundo - saya yakin Yang Mulia sudah lebih dari mengetahui penyebabnya. Sebelumnya apa ada sesuatu yang harus kami waspadai selama kami berada di sini?"

Fen melangkah dari bayangan.

"Situasinya menjadi lebih rumit dari apa yang aku ekspektasikan. Rencananya, aku hanya datang untuk menyapa mantan teman satu sekolah."

Ia menghadap para Regalis. "Radar mendeteksi pesawat yang serupa. Ada banyak pertanyaan tentang kalian bisa sampai ke semesta ini."

Kemudian Fen menatap Tedros.

"Fen. Dan dia - Lian. Kami berasal dari semesta para penyihir, sesuatu yang mengacaukan logika. Aku tidak akan berbohong sedikit pun. Semesta kalian dalam pengawasan. Kau tahu artinya, bukan?"

Lian menatap Fen tidak percaya. "Huh? Kau serius, Fen? Apakah semesta yang kita kunjungi ini berada di atas atau di bawah dari semesta kita? Setidaknya beri aku sedikit informasi yang tidak bisa aku akses. Gaia Library kan cuma dinasti kalian yang bisa mengaksesnya."

Charlesvin berdiri dari kursinya. "Kedatangan Anda sangat mengejutkan. Charlesvin Karl Artagnan. Suatu kehormatan akan kedatangan sosok seperti Anda dan sebagai pemimpin dari bagian ini, saya meminta maaf karena kelancangan kami memasuki wilayah ini. Jika berkenan, sudi kah Anda membiarkan kami mendengar maksud pribadi Anda? Pastinya ini tidak bisa dianggap sepele."

Ia sempat melirik Fen dan Lian. "Apakah aku harus khawatir karena kapal ini mudah disusupi?"

Tedros menyambut seekor kupu-kupu biru yang hinggap di ujung jarinya.

"Aku memahami kegelisahan kalian."

Tatapannya beralih kepada Fen dan Lian, lalu kembali menyapu seluruh ruangan.

"Reverse Mirror baik-baik saja. Aku pastikan Ex Hoc Mundo juga belum menunjukkan pergerakan yang signifikan."

Tanpa transisi yang terasa, kehampaan di luar kapal berubah menjadi siluet kota. Menara-menara Averion dan bias neon memenuhi pandangan.

"Sesungguhnya, sejak pertama kali kalian memasuki semesta ini, kalian sudah berada dalam genggamanku. Tidak ada tempat di mana kalian bisa sekadar menjadi pengamat."

Layar komunikasi berkedip. Sistem perlahan kembali hidup. Wajah Gabriel kembali muncul di jalur komunikasi.

Tubuh Tedros memudar seperti serpihan debu.

Ia tidak benar-benar datang. Ia tidak benar-benar pergi. Keberadaannya tidak tunduk pada perpindahan biasa; ia selalu ada di dalam semesta yang merupakan karyanya sendiri.

Suaranya tetap terdengar setelah bentuk fisiknya lenyap.

"Terakhir, untuk memuaskan hati kalian - jawaban atas kekangan yang paling pantas dipatuhi: jangan terikat dengan konsekuensi yang kalian tidak bisa hadapi."

***

Di salah satu pemakaman Averion, Serafina Lucrezia berjalan tanpa tujuan ziarah yang jelas.

Satu minggu sejak Lillian melarikan diri telah cukup untuk membuat pemerintah menghentikan aktivitas profesionalnya. Jadwal opera tertahan. Penghasilan terhenti. Sanksi itu berlaku sampai Terra yang pernah menjadi miliknya ditemukan kembali.

Serafina tidak datang untuk mencari Lillian. Malam itu ia hanya ingin melihat sesuatu yang lebih sederhana: bentuk akhir dari hidupnya sendiri.

Pemakaman bukan tempat yang secara khusus ingin ia kunjungi. Tempat semacam ini terlalu suram, terlalu jujur mengenai bagaimana setiap kehidupan pada akhirnya dapat diringkas menjadi nama, tanggal, dan sebongkah batu. Namun justru karena itulah kakinya membawanya kemari. Seminggu penuh sanksi, penghentian jadwal opera, dan kabar mengenai Terra yang tak kunjung ditemukan telah memberinya terlalu banyak ruang untuk berpikir. Di antara seluruh kemungkinan yang datang silih berganti, Serafina mendapati satu pertanyaan sederhana yang tidak bisa ia hindari: kelak, siapa yang akan mengingatnya setelah semua yang ia bangun menghilang?

Pikirannya sempat kembali pada keluarganya. Ia tidak menyimpan setiap detail kemalangan yang merenggut mereka; sebagian ingatan itu sudah terlalu lama terkubur di balik disiplin asrama dan tuntutan untuk tetap berdiri tegak. Yang ia ingat hanyalah bahwa aset yang dahulu tampak berlimpah pernah berubah menjadi debu, kabar duka tiba ketika dirinya masih jauh dari rumah, dan sesudahnya ia harus belajar bahwa kehilangan tidak selalu memberi kesempatan seseorang untuk menangis selama yang ia mau.

Karena itu, tatapannya pada deretan makam tidak sepenuhnya diliputi ketakutan. Ada rasa ingin tahu yang dingin, nyaris ilmiah, seolah ia sedang menatap sebuah gambaran masa depan yang tidak bisa dibantah. Angin malam mengayunkan helaian rambut dan jubahnya. Cahaya bulan yang pucat tidak memberi penghiburan apa pun, tetapi Serafina memang tidak datang untuk dihibur. Ia hanya ingin berpikir sampai pikirannya menemukan bentuk yang lebih teratur.

Deretan nisan membentang di hadapannya ketika suara mantra terdengar dari sisi lain.

"Every world holds hidden spaces. Fields connect, gathering truths. The seal opens - let the force find its path."

Sigil berputar mengelilingi lengan Altaf. Force field yang tak kasatmata menyebar di antara makam, memantul dan kembali membawa pola gangguan.

Beberapa makam telah dibongkar.

"Penghinaan telah dilakukan. Mereka yang telah mati dirusak, dinodai," gumam Altaf. "Semesta memberi petunjuk; takdir menuntun sampai ke tempat ini."

Ia menepukkan tangan perlahan, memberi penghormatan kepada yang telah mati.

"Semoga kalian tetap tenang. Saya akan mengurus ini."

Di gazebo, Isolde dan beberapa staf menunggu.

"Di sini ada sekitar tujuh makam yang dibongkar paksa. Jika dihitung, totalnya mencapai enam belas kasus dalam tiga hari terakhir," lapor Altaf. "Proyek ini kemungkinan sangat besar, sampai melibatkan mereka yang telah mati. Organ segar bukan tujuan utama mereka. Saya menduga mereka mengejar DNA dari tulang, gigi, atau bahkan sumsum tulang belakang. Bukti ini harus kita publikasikan. Bantu saya mengumpulkan lebih banyak tanda-tanda pembongkaran."

Isolde mendekati salah satu makam.

"Mengumpulkan tanda pembongkaran, baiklah."

Ia sempat bermaksud menggali ulang bagian yang telah rusak, tetapi Altaf segera menegurnya.

"Jangan membongkar kuburan atau merusaknya sedikit pun, Terra. Kumpulkan bukti dari apa yang sudah ada, seperti bekas penggalian, nisan yang berantakan, atau lainnya. Jangan abaikan polanya. Catat nama penghuni kuburan dan waktu kematian mereka."

"Baiklah, akan kulaksanakan."

Isolde sendiri masih belum sepenuhnya memahami mengapa ada orang yang bersedia membongkar makam hanya demi bagian tubuh yang bahkan tidak dapat dijual sebagai perhiasan. Ia sempat mengira ada benda berharga yang dicari, tetapi penjelasan Altaf mengenai DNA mengubah dugaannya menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk. Ada proyek yang cukup besar untuk membutuhkan tulang, gigi, atau sumsum orang mati; ada orang yang cukup berani untuk mengusik mereka yang bahkan sudah tidak mampu membela diri.

Ia menahan diri untuk tidak terlalu banyak bertanya. Bukan karena tidak penasaran, melainkan karena dirinya telah belajar bahwa pertanyaan yang dilontarkan pada waktu yang salah mudah dianggap sebagai kelancangan. Maka ia bekerja. Tanah yang sudah terganggu dimasukkan ke wadah bukti. Jejak kaki difoto. Bekas ban diukur. Nama penghuni makam, tahun kematian, dan kondisi nisan dicatat satu demi satu. Sesekali Isolde melirik majikannya yang sedang berbicara dengan Serafina, lalu kembali menunduk pada pekerjaannya. Jika Altaf menginginkan laporan yang lengkap, ia akan memberikannya tanpa meninggalkan detail yang bisa membuatnya kecewa.

Di tengah pemeriksaan, Altaf menangkap sosok wanita di antara makam.

"Waktu yang mungkin tidak tepat," katanya sambil mendekat. "Siapa yang ingin Anda kunjungi, Nona?"

Serafina menoleh.

"What a pleasant surprise to see you again so soon, yet your expression betrays no surprise, sir."

Tangannya bertaut santun di depan tubuh. "Sayangnya saya tidak datang untuk berziarah. Mungkin saya hanya ingin melihat keadaan saya suatu hari nanti."

Ia melirik para staf Altaf. "Dan saya yakin Anda memiliki pekerjaan untuk ini. Jadi... apa yang Anda lakukan di sini, Tuan?"

Altaf menjelaskan tentang makam-makam yang dirusak dan hipotesisnya mengenai proyek yang mengumpulkan material genetik.

"Tradisi bukan hanya warisan," katanya. "Ia adalah batas peradaban. Kalau batas itu dilanggar, konsekuensi akan datang."

Serafina memandang nisan yang tak lagi sejajar. "Saya tidak ahli dalam menyelidiki sesuatu. Logika saya terbatas, tapi saya tidak suka akan perilaku keji terhadap mereka yang telah berbaring damai."

"Anda melihat penyimpangan ini seperti saya melihatnya. Meskipun Anda mengatakan logika Anda terbatas, Anda cukup peka untuk tahu bahwa ini bukan sekadar perusakan biasa."

"Niat awal Anda datang ke sini mungkin sesuatu yang berbeda. Takdir hanya mencari alasan agar semuanya bertaut. Saya tidak meminta Anda untuk terlibat. Tapi dengan raga Anda yang berada di sini, itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa takdir kita tidak bersilangan tanpa alasan."

Bagi Serafina, kata takdir selalu memiliki ruang abu-abu yang terlalu luas. Ia dapat menerima bahwa pertemuan antarmakhluk hidup membentuk rantai sebab-akibat; ia juga dapat menerima bahwa satu keputusan kecil kadang mengarahkan seseorang pada konsekuensi yang sama sekali tidak diperkirakan. Tetapi menganggap setiap persilangan sebagai sesuatu yang telah dituntun sejak awal adalah keyakinan lain yang membutuhkan keberanian tersendiri.

Ia memikirkan bagaimana selama hidupnya ia nyaris selalu berada di lingkaran Gale. Dulu Serafina yakin dunia akan terus seperti itu: konflik hanya lahir dari perbedaan ideologi, pengalaman, kelas, atau kepentingan di antara ras yang sama. Lalu Overrealm jatuh dan Terra hadir sebagai kenyataan yang secara fisik tidak mungkin lagi disangkal. Kehadiran mereka membuat banyak kepastian lama terasa seperti teori yang tidak pernah diuji di lapangan.

Tatapannya sempat beralih pada Isolde. Altaf membeli Terra itu, memberinya tugas, mengarahkannya, dan tetap menyebutnya barang milik. Namun bahkan dari relasi semacam itu, hubungan baru tetap terbentuk. Serafina tidak tahu apakah itu akan menjadi loyalitas, kebencian, ketergantungan, atau sekadar kesepakatan bertahan hidup. Ia hanya yakin satu hal: hubungan tersebut akan meninggalkan bekas pada dua pihak, terlepas dari aturan apa pun yang berusaha menyederhanakannya.

"Gale dan Terra hanya berbeda dalam tubuh mereka. Setelah menyingkirkan semua cangkang yang menutup, hanya ada kemauan individual yang benar-benar terlihat. Tapi hal yang jelas adalah hubungan yang terbentuk setelah itu - seperti Anda telah menjadi pemiliknya."

Altaf tidak sepakat sepenuhnya.

"Gale dan Terra berbeda dalam tubuh mereka, tetapi tidak dalam kodrat mereka. Namun perbedaan itu bukan ilusi. Saya bukan makhluk yang menganut nihilisme. Aturan yang ada - termasuk kebencian saya pada Terra - diciptakan untuk menjaga keseimbangan. Batasan harus dipertahankan agar tatanan tidak runtuh."

"Kebencian itu sangat alami. Jika saya memilih untuk menyelamatkan mereka, itu bukan karena belas kasih, tetapi karena aturan baru yang mengkhianati tradisi."

Altaf tidak menyukai kesimpulan yang membiarkan terlalu banyak ruang kosong. Baginya, aturan bukan dekorasi historis yang dapat diambil hanya ketika nyaman. Aturan adalah batas. Seseorang boleh memiliki interpretasi, tetapi interpretasi tidak otomatis layak diterima hanya karena berasal dari pengalaman pribadi. Ada kebenaran yang harus dibangun dari rantai tradisi, catatan, dan sistem yang lebih besar daripada perasaan seseorang.

Empati pun, dalam pandangannya, tidak bisa dijadikan pembenar tunggal. Ia pernah membaca kisah tentang pembunuh yang menyimpan jasad korbannya karena kesepian. Orang-orang mungkin merasa iba ketika mengetahui latar belakangnya, tetapi rasa iba tidak menghapus kejahatan. Perasaan dapat menjelaskan tindakan; perasaan tidak selalu bisa mengampuninya. Karena itu, Altaf percaya bahwa hukum dan tradisi harus bertahan ketika manusia sedang paling mudah goyah oleh emosi.

Ia tidak menolong Terra karena mencintai mereka. Bahkan pengakuan semacam itu akan terasa seperti pengkhianatan terhadap struktur yang ia percayai. Ia menentang bentuk perbudakan yang sekarang justru karena menurutnya aturan baru telah merusak keseimbangan lama—mengubah pertentangan dua ras yang seharusnya setara menjadi hak satu pihak untuk menikmati penderitaan pihak lain. Baginya, itu bukan tradisi. Itu penyimpangan yang dibungkus hukum.

Serafina menyimak. "Arkeolog mencari kebenaran di masa lalu melalui peninggalan dan menjelaskannya secara teori sesuai perhitungan yang ditetapkan. Anda sudah tahu? Haruskah moralitas putih ditegakkan sekarang juga?"

Ada gurauan tipis di balik nada formalnya.

"Jika Anda sedang memastikan sesuatu yang lebih luas, bisakah saya menyimpulkan jika Anda ingin memuaskan rasa penasaran atas penyimpangan ini? Sebab-akibat? Dalam suatu konflik selalu ada pelaku yang menjadi pemicu dan di satu sisi ada pihak yang akan mengungkap kebenaran. Dari awal tidak akan ada dua pihak, namun selalu ada hal tersembunyi yang harus diketahui, bukan?"

"Saya tidak mencari kebenaran untuk memuaskan rasa penasaran," jawab Altaf. "Saya ingin melihat gambaran yang lebih luas. Saya diberi pengetahuan sekrusial ini bukan untuk berdiam diri."

Mereka berjalan menuju gazebo.

"Ngomong-ngomong, Nona, saya sebelumnya mengatakan bahwa Anda cukup peka terhadap keadaan sekitar. Sebagai seseorang yang ditakdirkan untuk memimpin, saya merasa obrolan ini memiliki kenyamanan tersendiri, sesuatu yang jarang saya temui. Anda memiliki frekuensi yang hampir selaras dengan pemikiran saya. Anda memang harus berada satu sisi dengan saya."

Serafina menatapnya beberapa detik.

"Anda harus lebih memperhatikan perkataan Anda, Tuan. Anda akan terdengar lebih baik saat mendeklarasikannya ke khalayak ramai dibandingkan... kesan Anda yang mencoba melamar saya."

Altaf terdiam.

Melamar?

Ia mengukur ulang percakapan mereka, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

"Anda benar. Sepertinya perkataan saya perlu dibenahi. Akan sangat rumit jika takdir membawa Anda ke pemakaman sebagai seseorang yang akan bersama dengan saya sepanjang hidup."

Serafina menerima uluran tangannya ketika naik ke gazebo.

"Saya ingin menegaskan lagi, saya berbicara tentang ketetapan, bukan sesuatu yang bersifat pribadi. Tapi jika Anda berkenan melangkah ke arah yang lebih pribadi... mungkin kita bisa mulai dengan memperkenalkan diri. Perkenalkan, saya Altaf."

Serafina tersenyum.

"Anda sangat padat, bukan? Sudah lama saya tidak mendengar pernyataan yang begitu kuno dan jujur sebagai perkenalan."

Ia menunduk sopan. "Salam, Tuan Altaf. Nama saya Serafina... Serafina Lucrezia."

Serafina menahan senyum setelah menyelesaikan penghormatannya. Cara Altaf memperkenalkan diri terdengar demikian padat, formal, dan kuno sampai nyaris mengingatkannya pada perkenalan antarkeluarga bangsawan dari masa yang sudah lama ditinggalkan generasinya. Di zaman ketika orang dapat bertukar identitas dalam beberapa detik melalui perangkat digital, masih ada seseorang yang seolah percaya bahwa sebuah nama harus disampaikan dengan cara yang membuatnya pantas dikenang.

Anehnya, ia tidak menganggapnya membosankan. Serafina sendiri mempelajari tradisi sebagai bentuk estetika dan identitas, bukan sebagai pedoman absolut. Ia masih menikmati tata krama yang baik, surat dengan bahasa terukur, seni yang diwariskan turun-temurun, dan gestur yang memiliki sejarah di baliknya. Tetapi ia selalu menganggap itu pilihan pribadi. Altaf berbeda. Pria itu tidak merasa memiliki kemewahan untuk memilih bagian mana dari warisan yang ingin ditaati. Perbedaan itu membuat percakapan mereka terasa semakin menarik.

‘Saya menganut kepercayaan yang kuat untuk budaya dan tradisi sebagai minat pribadi,’ ujarnya kemudian, ‘tapi saat Anda begitu yakin untuk menegakkan kebenaran—Anda pasti begitu berambisi.’ Ia tidak mengucapkannya sebagai celaan. Justru ada sedikit kekaguman pada seseorang yang begitu yakin pada garis yang dipijaknya, walaupun keyakinan semacam itu juga menyimpan potensi menjadi sesuatu yang berbahaya.

Altaf menanggapi dengan anggukan. "Sebuah kehormatan, Nona Serafina Lucrezia."

Percakapan mereka kembali pada tradisi dan peraturan.

"Saya memang seseorang yang dianugerahi ambisi," lanjut Altaf. "Menurut saya, itu diperlukan untuk memastikan aturan tidak dicemari oleh interpretasi yang menyesatkan. Misalnya, menikmati kebencian terhadap Terra lalu memanfaatkannya sebagai alasan untuk memperbudak mereka. Itu menyalahi aturan tentang kesetaraan dan pertentangan yang adil."

Kemudian suaranya merendah.

"Pemerintah yang sekarang dikuasai para mafia adalah pelakunya."

Informasi itu membuat suasana di gazebo seketika berbeda. Serafina tidak lagi melihat percakapan mereka hanya sebagai diskusi dua orang yang kebetulan bertemu di pemakaman. Jika Altaf memang sudah mengetahui pelakunya sejak awal, maka seluruh penyelidikan tiga hari terakhir bukanlah usaha mencari siapa yang membongkar kuburan. Ia sedang mengukur skala, pola, dan keterkaitannya dengan peristiwa yang lebih besar sejak Overrealm jatuh.

Altaf sendiri tidak menunjukkan tanda sedang bergosip. Ia menyampaikan tuduhan itu seperti kesimpulan yang sudah melalui proses panjang. Baginya, pengetahuan menuntut tanggung jawab. Bila ia memperoleh informasi yang cukup besar untuk mengubah cara membaca kejatuhan Overrealm, ia merasa tidak berhak menutup mata hanya karena masalah tersebut menyentuh penguasa, mafia, atau struktur politik yang lebih kuat darinya.

‘Saya tidak sekadar mencari jawaban,’ katanya lagi. ‘Saya ingin mengetahui gambaran yang lebih luas yang takdir inginkan dari kejatuhan Overrealm. Jika aturan bergeser, akan ada pembaharu yang harus memperjelas atau melengkapi apa yang diwariskan.’ Di dalam pikirannya, prinsip adalah satu-satunya pedang yang tidak boleh dilepaskan ketika dunia berubah terlalu cepat.

Serafina tidak langsung menjawab. Informasi itu terlalu sensitif untuk diterima sebagai percakapan biasa.

"Dari pandangan saya, tidak ada kebetulan sejak awal kedatangan Terra menjadi bukti yang bisa memicu kejadian akhir-akhir ini di Averion," katanya. "Memanfaatkan kebencian adalah hal alami bagi kita sebagai Gale dalam pelampiasan emosi. Kita masih memiliki ego sebagai pemilik tanah atas pendatang. Tapi harus apakah kita terhadap mereka? Terra tidak bisa melawan hukum Averion dan saya termasuk pemilik Terra yang menyikapinya tanpa memberikannya kesetaraan."

"Gale lain melakukannya. Tapi bagaimana dengan Terra? Mereka juga benci Gale. Mereka menolak. Mereka bisa menjadi bagian yang tidak taat terhadap hukum karena keberadaan mereka. Menurut Anda, apa yang ingin Anda lakukan terhadap Terra sejauh ini, Tuan Altaf?"

Altaf berdiri.

"Sejauh ini, saya hanya ingin melihat mereka menempatkan diri dalam sistem yang ada - bukan sebagai korban, bukan sebagai pemberontak. Jika mereka harus tunduk, maka mereka tunduk pada aturan. Tetapi untuk jangka panjang, saya tidak memiliki rencana."

Ia menatap siluet yang mendekat dari kejauhan.

"Pertanyaan sebenarnya adalah apakah kebencian alami ini memiliki dasar, atau hanya keinginan pencipta untuk dipatuhi."

Kalimat itu membuat Serafina menilai kembali dirinya sendiri. Selama ini ia menyebut kebencian terhadap Terra sebagai sesuatu yang wajar, sesuatu yang muncul begitu saja ketika keberadaan mereka terlalu dekat. Tetapi ketika ia mencoba membongkar rasa itu, yang paling mudah ditemukannya justru perasaan terusik—bukan luka pribadi, bukan dendam yang memiliki nama, melainkan reaksi tubuh terhadap sesuatu yang dikatakan dunia sebagai lawan.

Superioritas? Iri hati? Amarah? Ancaman terhadap wilayah? Semuanya mungkin, namun tak satu pun cukup menjelaskan mengapa seorang Gale bisa membenci Terra yang bahkan belum pernah berbuat apa-apa padanya. Pemikiran tersebut tidak serta-merta menghapus naluri, tetapi cukup untuk menanamkan ketidaknyamanan baru. Jika kebencian itu dibuat untuk menjaga keseimbangan, siapa yang pertama kali memutuskan bahwa keseimbangan harus dibangun dari penolakan?

Serafina ikut merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

"Sekarang apa ini?" bisiknya.

***

Di bagian pemakaman yang lain, Elvis Ilmari datang bersama Haruki.

"Master... kenapa ke kuburan? Angker begini."

Cara bicara Haruki kini jauh lebih lancar dibanding seminggu lalu. Setelah dipukuli seorang Gale di kafe, ia lebih berhati-hati terhadap orang asing, bahkan sedikit menjaga jarak dari Elvis.

"Selain itu, kukira Master itu penduduk Gale yang 'baik' yang akan menjual budaknya kembali."

Elvis tertawa ringan. "Angker? Tidak, tidak~ Aku justru melihatnya sebagai pemandangan yang damai dan sunyi. Kalau begitu, aku adalah Gale yang jahat karena sudah memilih untuk tak menjualmu lagi."

Ia mengajak Haruki berdiri di sampingnya. "Kau takut dengan tempat seperti ini? Tidak, kan?"

"Sejujurnya sih tidak. Hanya saja... ini kuburan, kan? Kenapa terasa lebih sepi? Seolah-olah ada yang hilang. Kukira kematian Gale akan damai dan sunyi seperti yang Master katakan tentang kuburan ini."

Elvis memandang nisan-nisan di depan mereka.

"Kematian Gale maupun Terra - damai atau tidak, semua itu tergantung apa saja yang mereka lakukan selama hidup. Merasa hampa ketika melihat pemakaman seperti ini adalah hal yang wajar, tahu?"

Ia tersenyum.

"Aku selalu menganggap hidup seseorang bagaikan lembaran musik. Tiap langkah yang dibuatnya akan menghasilkan tangga nada yang menarik. Tetapi begitu mereka menghembuskan napas terakhir, hanya ada dua nasib yang dapat dipilih. Entah lembaran musik itu akan dibakar hangus, atau justru disimpan sebagai memori. Kau lebih memilih yang mana?"

Haruki jongkok di depan salah satu nisan. "Kalau boleh jujur, aku tidak tahu. Karena aku sendiri sudah menjadi budakmu, Master. Kalau kau mau menyimpannya ataupun membakarnya, itu akan menjadi keputusan Master."

Jarinya menyentuh tanah.

"Tapi tergantung sang pembuat. Bisa saja mereka akan menjadi sesuatu yang berbeda di mata orang lain. Aku lebih takut kalau lembaran tersebut justru diambil orang lain dan diplagiat, dibuat ulang seolah-olah lembaran tersebut menjadi miliknya."

Sebelum Elvis menjawab, seseorang berbaju putih memasuki jalur mereka.

Nullvian.

Ia datang bukan untuk berziarah.

Ia datang untuk merusak.

Tatapannya menemukan Haruki lebih dulu. Kebencian muncul seketika. Tanpa peringatan, Nullvian mendorongnya keras sampai tubuh Haruki menghantam tanah berbatu.

"Terra seharusnya tetap di tanah, di mana mereka berasal."

Haruki tidak sempat membalas. Darah mulai mengalir dari kepalanya.

Nullvian mendongak ke langit.

"Dunia ini tidak lebih dari kebohongan yang ditahan dengan benda rapuh. Sang raja mengira bisa menipu waktu, membuat reruntuhan terlihat utuh. Semua ini tak lebih dari ilusi yang akhirnya hancur. Dunia palsu ini memang seharusnya runtuh. Dan sekarang, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan."

Matanya kemudian menemukan Isolde.

Nullvian berlari dan menendang perutnya. Serangan berikutnya menghantam wajah Isolde berulang kali.

Elvis mendengar semuanya.

Ia tetap tidak bergerak.

"Plagiat, ya~" katanya kepada Haruki, seolah kekerasan di depan mereka hanyalah latar belakang. Ia mengeluarkan kertas dan pena. "Kekerasan di tengah pemakaman, aroma besi di gelapnya malam, ringisan sakit di tengah sepi... Ah, apakah akan ada yang melakukan plagiat pada hal seperti ini? Lembaran musik yang begitu pedih, namun maknanya begitu dalam."

Haruki membersihkan tanah dari tubuhnya dan menempelkan sapu tangan pada luka di kepala.

"Aren't you glad that you got the inspiration, Master? Apakah Anda sudah mendapat sebuah lagu yang bagus?"

"Sebuah lagu? Tidak, tidak~ Inspirasiku memang mengalir, namun belum bisa disebut sebagai sebuah lagu yang bagus. Masih ada sedikit bumbu yang kurang."

Serafina mendekat dari arah gazebo.

"Bukankah Anda begitu kreatif, Tuan Elvis?"

Elvis mengenal suara itu.

"Haha~! Selamat malam, Nona Serafina. Bisa bertemu denganmu di sini - bagaimana bisa hari ini tak menjadi hari terbaikku? Ah, apakah kehadiranku dan anak ini mengganggu percakapan kalian?"

Haruki berdiri siaga di belakang Elvis. "Aku tidak tahu apa yang kurang dari inspirasi Master, tapi ke mana pun itu, aku akan melindungi Master."

Di sisi lain, Altaf turun dari gazebo begitu melihat Isolde diserang.

"Tanda dari takdir tidak pernah berdusta. Kita tunda dulu obrolan mengenai takdir kita, Nona Serafina."

Ia membuka segel.

"Every world holds hidden spaces. Fields connect, gathering truths. The seal opens - let the force find its path."

Field Force menghantam Nullvian dan memutus rangkaian serangannya.

"Jangan merusak Terra yang sudah saya beli."

Nada Altaf tetap tenang.

"Apa yang Anda inginkan dengan datang ke tempat lusuh ini dan memulai tindakan yang merugikan saya?"

Nullvian berdiri seolah dorongan itu hanya gangguan kecil.

"The Hierophant, sang imam, pemimpin spiritual. Bertemu dengan The Empress, sang permaisuri."

Tatapannya berpindah antara Altaf dan Serafina.

"So, you want to play the hero? These ruins won't rise under your rules."

Ia melirik Isolde. "Aku hanya melakukan yang seharusnya. Jika kau merasa dirugikan, itu salahmu sendiri. You let them remain."

Kemudian ia menunjuk Haruki tanpa perlu menyentuhnya.

"The Hermit di timeline ini tidak melakukan pencariannya. Lembek dalam memahami diri sendiri. Tidak jauh berbeda dengan timeline sebelumnya - memilih mengisolasi diri, tenggelam dalam trauma dan keterpurukan."

Lalu kepada Elvis.

"The Sun... selain ekspektasi berlebihan dan kesombongan yang tidak pantas. Jika Averion yang jatuh, ia hanya akan terus membunuh untuk mengakali cerita tentang egonya."

Serafina mendapat gilirannya.

"The Empress. Di timeline lain, kau begitu posesif dan penuh pengekangan. Kau menikah di usia belia - memaksa pasanganmu. Lalu akhirnya hancur dalam kesepian."

Nullvian menatap Altaf terakhir.

"The Hierophant yang putus asa karena aturannya terus digerus akhirnya menciptakan tembok tebal. Sensitif terhadap perubahan, menutup diri dari pengetahuan baru. Dunia berperang karena pandangan fanatiknya. Kau ingin melakukan hal yang sama?"

Serafina mengerutkan alis. "Seseorang berbicara soal waktu lain. Apa Anda sedang membicarakan orang lain atau kronologi yang tidak relevan untuk memancing?"

Altaf tidak goyah.

"Anda berbicara seakan mengetahui segalanya. Tetapi pemahaman yang didasarkan pada serpihan dari timeline berbeda, apakah benar mencerminkan kebenaran? Yang Anda miliki hanyalah pecahan masa lalu, disusun dalam narasi yang Anda tentukan sendiri, tanpa mempertimbangkan bagaimana waktu membentuk perbedaan."

Sigil masih beresonansi.

"Anda bertanya mengapa The Empress bisa berdiri di sisi saya. Itu berarti Anda sudah tahu bahwa waktu tidak berulang dalam pola yang sama. Ada kemungkinan bagi sesuatu untuk melampaui takdir - qadar yang telah digariskan."

Nullvian menyeringai.

Haruki ikut bicara. "Aku rasa kau salah paham dengan diriku, Gale kasar. Jika The Hermit yang kau sebutkan seperti itu, aku rasa aku bukanlah The Hermit yang kau katakan. Sejak ketemu Master Elvis aku merasa tidak perlu tenggelam dalam trauma dan keterpurukan. Tujuanku hanya satu: melindungi Master."

Elvis menoleh. "Haruki~ Jangan katakan apa pun pada yang lain sebelum aku mengizinkanmu, ya~?"

Haruki langsung mundur. "Maaf. Habisnya Master disindir. Jadi nggak bisa diam."

Elvis kembali menatap Nullvian. "Ternyata Anda lebih imajinatif dariku, ya~?"

Kesabaran Nullvian runtuh.

Dalam satu tarikan napas, waktu berhenti.

Udara membeku. Burung tertahan di langit. Debu dan dedaunan berhenti jatuh. Altaf, Serafina, Elvis, Haruki, dan orang-orang di sekitar mereka terperangkap dalam diam.

"Did you all really think you could just disregard me?"

Retakan muncul di udara. Pilar-pilar cahaya masuk ke pikiran mereka.

Serafina melihat dirinya di timeline lain - posesif, mengekang pasangan, memaksakan kehendak, kemudian ditinggalkan dalam kesendirian. Ia melihat kerajaan runtuh dalam kudeta dan perang saudara.

"So obsessed with maintaining dominance, only to crumble in solitude. This time, do you think you can escape it?"

Altaf melihat dirinya membangun tembok aturan sampai fanatismenya memicu perang.

"How many worlds have fallen because of your rules? Do you think this time will be any different?"

Haruki melihat dirinya menghilang dalam keterasingan.

"Avoiding it has never saved you."

Elvis melihat cahaya harapan yang ia sebarkan berubah menjadi kesombongan yang membutakan pengikutnya sendiri.

"Radiant arrogance, yet hollow within. How many times must you watch your own hopes shatter before you understand?"

Nullvian menatap semuanya.

"Lihatlah. Ini adalah kalian, hanya kalian. Kalian terus-menerus jatuh di jalan yang sama, tanpa perubahan. Kau bisa saja mendebat, menyangkalnya. Tapi cepat atau lambat, kalian akan menyadari, aku selalu benar. I'm the sign beyond the universe, the one who knows everything."

Retakan menutup.

Waktu kembali bergerak.

Nullvian sudah menghilang.

Serafina jatuh terduduk.

Kesadaran Serafina tidak langsung kembali bersamaan dengan bergeraknya waktu. Dalam kepalanya, ruang mansion lama masih berdiri dengan langit cerah di balik jendela. Ia melihat dirinya jauh lebih muda—gadis dengan rambut cokelat halus, begitu disiplin memenuhi tuntutan keluarga, berusaha menjadi gambaran sempurna dari nama Lucrezia.

Lalu ada seseorang di sisinya. Wajahnya tidak dapat dikenali dengan baik, tetapi pertengkaran di antara mereka terasa demikian nyata sampai jantung Serafina ikut berdebar dalam tubuhnya yang sekarang. Versi mudanya mencengkeram hubungan itu terlalu keras, memaksa, mengatur, mempertahankan posisi dan ego sampai sosok yang bersamanya akhirnya menghempaskannya lalu pergi.

Gambaran berganti. Kerajaannya terbakar. Bangsawan melakukan kudeta, kekuatan luar memanfaatkan perang saudara, rakyat meninggalkannya, dan mereka yang bersumpah melindunginya mati sia-sia. Ia mendengar cercaan terhadap kepemimpinannya, penghinaan terhadap warisan leluhur, dan tuduhan bahwa kasih sayang yang ia banggakan hanyalah bentuk lain dari pengekangan.

Kesendirian menjadi akhir. Bukan hanya kesendirian di sebuah ruangan, tetapi kesendirian yang terasa seperti dunia sudah selesai mengingat namanya. Itulah yang membuat Serafina jatuh terduduk ketika ilusi lenyap. Pengalaman itu menyentuh luka yang terlalu dekat dengan kenyataan hidupnya sendiri—karena bahkan ketika berkarier, dikelilingi penonton dan orang-orang yang mengenalnya, ada bagian dirinya yang selalu merasa sendirian.

Tangannya menutup mulut menahan isakan. Air mata lolos juga. ‘Aku hidup namun rasanya seperti mati,’ pikirnya, dan untuk sesaat ia tidak menginginkan jawaban apa pun. Ia hanya ingin lari dari bayangan yang baru saja menyentuh bagian dirinya yang selama ini dikunci rapat.

"Tolong..." lirihnya.

***

Di Aeon, sebuah terowongan terbengkalai menjadi tempat berbagai urusan yang seharusnya tidak saling bertemu.

Yoshitsune mengangkat lentera di tangannya dan menatap Lyod yang sudah menunggu di bagian terdalam.

"Lyod, aku memang bisa berada di mana pun, namun bukan berarti di tempat ini juga."

Ia memahami alasan Lyod memilih lokasi tersebut. Yoshitsune sedang menjalani pengasingan dari Drakovan. Pertemuan terang-terangan hanya akan menambah masalah. Lyod tidak datang untuk mempertanyakan hukuman itu, melainkan memastikan orang yang ia anggap sebagai kakak tetap hidup layak selama jauh dari rumah.

Yoshitsune sebenarnya dapat berada di banyak tempat apabila ia mau. Pengasingan tidak merenggut semua koneksi, uang, maupun orang yang menganggapnya keluarga. Yang direnggut darinya adalah hak untuk kembali begitu saja ke rumah yang selama ini ia bangun bersama mereka. Ia masih mengawasi Red Lantern dari balik bayang-bayang, tetapi tidak ingin pelanggaran kecil memberi pemerintah alasan untuk menambah sanksinya atau menghantam mereka yang masih berada di sana.

Bagi Lyod, pertemuan itu bukan hubungan tuan dan bawahan. Sejak lama Yoshitsune berhenti memakai istilah tersebut. Pemuda itu bagian dari keluarga; ‘wakagashira’ yang masih terlalu muda untuk memikul semuanya sendirian, setidaknya menurut Yoshitsune. Karena itu ketika melihat Lyod menunggu di ujung terowongan yang lembap, ada rasa bersalah tipis yang tidak ia ucapkan. Seseorang seharusnya tidak perlu menyelinap ke tempat seperti ini hanya untuk memastikan kakaknya masih baik-baik saja.

"Oshoi!" Lyod menegur keterlambatannya.

Ia menatap Yoshitsune dari ujung kaki sampai kepala, memastikan tidak ada luka baru.

Di bagian terowongan lain, suara seorang pria terdengar lembut namun mengandung ancaman.

"A dirty place like this indeed suitable for someone like you, isn't it? Blasphemer."

Lucien Seraphim memainkan pistol di tangannya. Di depan moncongnya, Abel terus mundur.

"God is Most Forgiving, that's why I give you a chance to repent. But what did you do? Keep spreading fake beliefs and torture the people as you seen fit."

Abel gemetar. "P-please, Father! Please forgive me for I've sinned! I'll repent and reflect!"

Lucien terus mendesaknya. "You're cornered now. Where do you want to go?"

Abel mencoba kabur.

Dor!

Peluru menembus kakinya. Jeritan menggema sepanjang terowongan.

Lucien berhenti di depannya dan mengangkat dagu Abel menggunakan moncong pistol.

"Will you tell me now?"

"F-Father... please forgive me... I've committed a sin.... That's because I envy you, Father...."

Abel mengakui kecemburuan dan rasa rendah dirinya. Setiap kali Lucien absen dari gereja, ia menyebarkan ajaran palsu dan menggunakan metode penyiksaan yang menimbulkan banyak korban karena ingin menjatuhkan posisi Lucien.

Lucien mendengarkan sampai selesai.

"Aku mengerti. Namun kau harus tetap menebus dosa-dosamu dengan mengakui segala perbuatanmu selama ini di depan para pengikut. Aku akan memberitahu hukuman lainnya saat kau sudah melakukan itu. Omong-omong, sebelum kau memutuskan melakukan semua itu, dengan siapa kau mengobrol terakhir kali?"

Abel berpikir cukup lama. "... Aku mengobrol dengan Monsignor Benedict."

Lucien mengangguk. "Siegfried, deal with this."

"Understood."

Butler itu membopong Abel keluar.

Lucien menoleh kepada orang yang sejak tadi mengawasinya.

"... Masalah ini tampaknya masih belum selesai. Terima kasih sudah mau menemaniku, Bishop Cain."

Cain menghampirinya.

"You are not wrong to act, but you are not right either. Justice is not ours to enforce by force alone. If we become executioners without restraint, we are no different from the sinners we condemn. If we act solely on our anger, then we risk becoming the very monsters we seek to eradicate."

Ia memandang pistol Lucien.

"I hope you don't hold personal vendetta against him. What are your plans now? Did you wish to exterminate the rest of the blasphemers?"

Lucien menyarungkan pistol ke thigh holster.

"Yes, I guess so. Though, I don't think they're truly blasphemers since we don't really believe in a certain being."

Ia masih memunggungi Cain.

"Don't worry. Every bit of my actions are only for what is needed. I can only mourn for the deceased, like how my fellow believers died in the hands of some Terra before they too got beheaded. I can only blame fate at this rate. Perhaps this is the payment because I lead them into the wrong path in the first place."

Suaranya mulai bergetar.

"I was always blinded by unknown faith and remained ignorant all this time. I know the internal struggle in my cult, and yet keep my eyes and ears closed because the God I believe is still merciful towards the criminals. Only until recently an unknown person suddenly appeared out of nowhere and slapped me with reality and facts... The fact that the God I believe is not belong to this world and I shouldn't blindly worship them merely because of the healing power they emits."

Pada awalnya Lucien tidak membangun kelompoknya untuk menjadi sesuatu yang merenggut hidup orang lain. Ia mengumpulkan mereka yang hidup di lapisan terbawah masyarakat karena dirinya tahu bagaimana rasanya tidak ditolong ketika paling membutuhkan pertolongan. Penyembuhan yang ia lihat dari entitas yang dipercayainya terasa seperti jawaban. Jika kemampuan itu dapat mengurangi penderitaan orang miskin, mengapa ia harus menolak hanya karena bentuk keyakinannya tidak sesuai dengan gereja-gereja lama?

Masalah muncul perlahan. Konflik internal, penyalahgunaan otoritas, orang-orang seperti Abel yang memelintir ajaran ketika dirinya tidak ada. Lucien melihat sebagian tanda itu dan memilih percaya bahwa belas kasih Tuhan pada akhirnya akan memperbaiki semuanya. Ia menutup mata. Menutup telinga. Maka ketika orang asing datang dan mengatakan bahwa sosok yang ia sembah bahkan bukan milik dunia ini, kenyataan itu terasa seperti tamparan yang menuntut seluruh hidupnya ditafsirkan ulang.

Di satu sisi, gereja ortodoks tidak pernah menolongnya ketika dirinya membutuhkan uluran tangan. Di sisi lain, entitas asing itulah yang pernah menjadi penyelamatnya—meski kerabat sang entitas mengatakan pertolongan itu tidak pernah dimaksudkan sebagai wahyu. Ia tidak tahu apakah seluruh kemalangan yang dialaminya adalah ujian, hukuman, kebetulan, atau sekadar takdir tak terkendali. Karena itu air mata yang sempat keluar bukanlah tanda bahwa Lucien ingin menyerah pada iman. Ia hanya tidak lagi tahu di mana harus meletakkan kata ‘iman’ itu.

Isak kecil lolos.

"Bishop... I... I don't know anymore about what I need to believe. Now that I know the being I worship is not something I can believe. But being a Priest of an Orthodox Church gave me mixed feelings since the same Priests don't even reach their hands out to help me when I really need them the most. Only that being become my savior even though the person who claimed as that being's relative said it's not intended. I can't blame The God either since I didn't know whether all the misfortunes I've experienced are His plans to test me or an uncontrolled fate I need to endure."

Lucien menyeka air mata dengan lengan baju dan berbalik dengan senyum yang hampir terlalu cepat muncul.

"Well, I'll think about it again later since we have urgent matters at hand. There's something interesting I want to tell you too while we're walking. Anyway, I feel like this place has become crowded, or is it just my feeling?"

Cain menghela napas dan berjalan mendekat.

"Faith is never constant, nor is it ever absolute. It shifts, it changes, it questions itself. It is our nature to seek answers, and it is also our nature to doubt. There is no shame in that."

Tangannya mengelus pucuk kepala Lucien.

"If the God you once believed in is not what you thought, then seek again. Faith is not about blind devotion, nor is it about following a path that others dictate for you. It is about understanding, about learning, about choosing what you believe in."

Ia tersenyum.

"I said this not as a Bishop, but as your friend. It's alright to doubt, Lucien. It's not like I never doubt my faith either."

Lucien diam menerima gestur itu.

Cain kemudian berbisik membuka segelnya.

"Press thine bounds toward the infinite, for God shall guide thy path. The seals unfasten as the truth art revealed."

Radiasi ringan tak kasatmata menyapu terowongan. Cain menghitung banyak kehidupan lain di sekitar mereka.

"Memang bukan hanya kita yang ada di tempat ini. Beruntung sekali butlermu sudah pergi lebih dulu tadi."

Ia menonaktifkan Arcana dan menuju sepeda motor yang dipakai saat pengejaran.

"Ayo pergi."

Lucien mengambil helm. "There's too many people from the entrance. Let's go to the other side of this tunnel instead."

***

Kaizer Maverick adalah salah satu orang yang tidak sengaja dibaca oleh sensor Cain.

Ia berjalan tanpa arah, dihantui pemandangan eksekusi Terra di pelelangan. Kebencian rasialnya tidak menghapus trauma ketika menyaksikan makhluk hidup dibunuh di depan mata.

Tembakan Lucien membuatnya membeku.

Pembunuhan lagi?

Sebuah jeritan berulang dalam kepalanya. Kaizer meraba saku, menemukan obat penenang, lalu menelan dosis yang biasa ia gunakan untuk menekan serangan panik.

Ia menampar kedua pipinya pelan.

"Sadar, Kaizer."

***

Sementara itu, Helvetica memasuki terowongan dari sisi berbeda.

Selama seminggu terakhir ia terus berpindah-pindah. Sejak meninggalkan Lillian ketika wanita itu sedang beristirahat, ia memilih tidak terikat pada siapa pun. Tanduknya telah hilang. Ciri Terra yang tersisa memang membuat beberapa Gale tetap merasa tidak nyaman, tetapi tanpa identitas paling mencolok itu, banyak dari mereka memilih menjauh daripada menyerang.

Sebelum menemukan terowongan, Helvetica telah menghabiskan waktu emasnya dengan bergerak tanpa tujuan tetap. Dia tidak meninggalkan pesan kepada Lillian ketika pergi. Menurutnya, sudah waktunya mereka menentukan nasib masing-masing. Lillian akan lebih aman tanpa mengikuti jejak seseorang yang punya kebiasaan menganggap jurang bunuh diri sebagai rute alternatif yang menarik.

Pakaian putih yang dikenakannya malam itu bahkan bukan miliknya. Helvetica menukarnya dengan pakaian yang ia temukan terjemur di dekat rumah warga ketika aktivitas para makhluk nokturnal menurun. Ia tidak terlalu memikirkan apakah tindakan itu pantas disebut mencuri. Pakaian lama sudah tidak berguna dan dirinya membutuhkan sesuatu yang tidak terlalu mencolok; logika praktis semacam itu lebih mudah dicerna daripada etika yang harus diperdebatkan panjang.

Ketika menemukan massa Gale menerangi lorong suram, rasa tertarik muncul lebih dulu daripada kehati-hatian. Baginya, melihat makhluk bercahaya memilih masuk ke tempat yang bau dan lembap adalah paradoks kecil yang terlalu bagus untuk dilewatkan. Maka ia masuk sambil bercanda mengenai mantra pembuka segel yang bahkan tidak diingatnya dengan benar.

Malam ini Helvetica memilih menggunakan ketidaknyamanan itu secara sengaja.

"I can't remember what I wanted to say, but maybe it's the seal opens? Yeah, that's a good placeholder for whatever was supposed to come next."

Helvetica tidak sekadar ‘mengeluarkan bau’. Ia memaksa tubuhnya sendiri menjadi laboratorium hidup. Kortisol dan adrenalin dinaikkan dengan sengaja untuk menciptakan stres buatan, mempercepat metabolisme serta merangsang kelenjar keringat. Asam isovaleric membentuk bau tengik yang menusuk. Prolaktin menambah ketegangan internal, sementara kombinasi hormon mengubah komposisi senyawa yang dilepaskan tubuh menjadi feromon stres.

Sinyal itu tidak hanya bekerja pada hidung. Helvetica mengandalkan kemungkinan bahwa tubuh makhluk di sekelilingnya akan membaca ancaman sebelum kesadaran mereka sempat memberi nama. Dorongan bawah sadar untuk menjauh membuat jalan terbuka dengan sendirinya. Ia tidak perlu mengancam, tidak perlu menyentuh siapa pun, bahkan tidak perlu menatap terlalu lama. Orang-orang hanya merasa bahwa berada dekat dengannya adalah keputusan yang buruk.

Cara itu tidak membuat dirinya kebal terhadap efek samping. Tubuhnya sendiri menjadi tegang, metabolisme melonjak, dan rasa gelisah buatan merayap di dalam sistem saraf. Namun Helvetica sudah terlalu terbiasa memperlakukan fisiknya sebagai bahan eksperimen untuk menganggap ketidaknyamanan sebagai masalah besar.

Orang-orang di sepanjang lorong memilih memberi jalan tanpa benar-benar memahami alasannya.

Suara tembakan Lucien terdengar, tetapi Helvetica tidak menghentikan langkah.

Baru ketika melihat lentera di depan, ia meredam Arcana.

"Langkahmu kaku banget, kelihatan ekstra hati-hati dan seperti tidak ingin diawasi," katanya kepada Yoshitsune. "Jangan-jangan ada tempat rahasia yang sedang kamu tuju, ya?"

Lyod mencium sesuatu dari udara dan langsung membuka segel.

"Dategumi mamori shimouro yo, wakagashira Lyod ga meijiru, open the seal."

Udara dingin berembus ke arah Helvetica.

"Dare da omae!"

Yoshitsune membalikkan badan dan berdiri di depan Lyod.

"Ojitsuitte, Lyod."

Ia mengangkat lentera, mengenali bentuk tubuh tanpa tanduk di depan mereka.

"Aku lelah selalu diawasi seperti seorang buronan hanya karena aku terlihat membela sesamamu. Tidak ada tempat rahasia untukku. Aku hanya ingin pulang ke rumah, tapi ada sanksi yang harus aku lakukan. Jika aku langgar, keluargaku akan terkena imbasnya."

Helvetica mengangkat kedua tangan. "Easy there, pal. I'm just existing here - nothing more, nothing less."

Ia kemudian menatap Yoshitsune. "Go on. Aku masih ingin dengar. Apa yang membuatmu repot-repot berpihak pada 'mereka'?"

Yoshitsune terdiam cukup lama.

"Apa perlu harus ada alasan untuk membantu makhluk yang membutuhkan bantuanku? Terranian juga makhluk yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa, bukan? Selain itu tidak semua Galeian membenci Terranian. Justru mungkin ada mereka yang membenci rasnya sendiri."

Ia bercerita tentang ibunya, seorang budak yang dibebaskan ayahnya dan kemudian dinikahi karena cinta. Tubuh ibunya penuh bekas penyiksaan dari pemilik terdahulu.

"Galeian menjunjung harga diri mereka sebagai makhluk yang lebih sempurna bentuknya dan paras mereka yang diberkahi ketampanan dan kecantikan. Namun sayangnya, nampaknya Yang Maha Kuasa lupa memberikan mereka empati pada makhluk lain hanya karena kebencian mereka pada ras lain."

Helvetica menyimak.

"Kamu boleh benci Galeian sesukamu. Tapi jika Terranian berkuasa di tempat ini, belum tentu keadaan bisa lebih baik. Gale terang-terangan keras terhadap budak, menebar teror dengan gaya yang norak - I mean, gantungan-gantungan waktu itu. Tapi ini sisi yang aku suka: mereka tidak ada tipu daya. Apa pernah terbayang di kepalamu bagaimana jadinya jika Terra yang mengambil peran sebagai bajingannya?"

Ia tersenyum.

"Imagine this - mereka mungkin bisa menjadi majikan yang 'baik'. Memperlakukan budak dengan manusiawi, tapi itu hanya untuk mengambil hati budak supaya bisa membentuk loyalitas palsu. All that 'kindness' would be just another shackle. The best prison is the one that feels like home, after all."

Lyod bergeser ke sisi Yoshitsune. "Memangnya Terranian yang sedikit jumlahnya itu bisa berkuasa? Semua Terranian yang tersisa ada di pelelangan waktu itu. Memangnya kalian akan bisa berkuasa dengan jumlah kalian yang seperti itu?"

Ia berhenti, lalu menghela napas.

"Mau yang mana pun sama saja."

"Mungkin bisa, mungkin tidak," jawab Helvetica. "Orca bisa membunuh predator laut meski jumlah mereka sedikit. Tapi kamu benar, dan aku pun tak peduli siapa yang berkuasa. Lagipula aku hanya mengajakmu membayangkan."

Yoshitsune menanggapi dengan tenang. "Mereka melihat apa yang kulakukan pada mereka yang ada di Red Lantern sama seperti yang kau umpamakan. Bagi mereka di Red Lantern, aku adalah majikan baik. Namun bagi orang di luar, aku hanya mengambil hati para budak itu dan memanfaatkan mereka untuk menimbun kekayaan."

"Yang Maha Kuasa?" Helvetica menaikkan alis. "Oh... maksudmu itu. Kau percaya sosok takhayul?"

Ia menahan tawa.

"Aku kurang paham konsep benci. Tapi sepertinya kalian dan mereka cuma jadi budak kebencian yang diprogram Si Maha Kuasa."

Yoshitsune menjawab tanpa tersinggung. "Ya, aku masih percaya dengan sosok takhayul yang kamu maksudkan itu. Dan aku masih percaya jika ini semua sudah Yang Maha Kuasa tetapkan pada setiap makhluknya. Dan ya, termasuk program menjadi budak kebencian."

Helvetica kemudian mengubah topik.

"Lupakan soal makhluk siang dan malam. Pernahkah kamu - kalian - bertemu makhluk yang bahkan enggak punya ciri khas Terra atau Gale?"

Lyod mengingat seseorang di pelelangan.

"Makhluk itu ada. Saat menggantikan Yoshitsune-sama menawar seorang Terranian, aku bertemu dengan orang itu. Pakaiannya cukup aneh dan dia nyaris tidak ada aura seperti Galeian dan juga ciri khas para Terranian. Mereka memberikan penawaran tinggi lalu setelah berhasil menghilang di detik itu juga. Seperti mereka datang untuk mengacau dan setelah berhasil, pergi begitu saja."

Helvetica mengangguk tipis.

Ia menceritakan sosok lain yang ditemuinya di Haravos: pria tanpa tanduk, tanpa sayap khas Gale, tanpa permusuhan naluriah, dan tampaknya mampu menghilang tanpa sigil Arcana.

"Makhluk itu sepertinya kabur dengan kekuatannya. Tapi seingatku nggak ada sigil di tangannya. Bukan pengguna Arcana, mungkin? Atau... ada ras selain Gale dan Terra di dunia ini yang bisa lakukan itu? Apa ada peran Tuhan - Si Maha Kuasa - di balik ini? Feel like offering your opinion? I'm all ears."

Yoshitsune tersenyum tertarik. "Memangnya ada makhluk seperti itu? Mereka memiliki kekuatan seperti itu? Tapi bukan pengguna Arcana? Semakin menarik saja mereka dan aku ingin segera menemui mereka. Namun sebelum itu..."

Netra emasnya mengarah kepada Helvetica.

"Kita bisa bahas itu nanti. Sekarang katakan padaku apa yang kamu inginkan dariku. Tidak mungkin kan kamu datang padaku hanya untuk sekadar mengobrol?"

Helvetica tersenyum kecil.

"Aku tidak terlalu peduli kenapa kekuatan mereka bukan Arcana. Tapi bukankah menarik kalau aku dan kalian bisa jadi seperti mereka? Tidak terikat dengan sistem yang telah mendarah daging."

Mulutnya bergerak nyaris tanpa suara.

The seal opens - because following the script is so overrated.

Tangan Helvetica meraih tangan Lyod dan menempelkannya ke dada kiri, tepat di tempat berlian milik Yinxia ditanamkan sebagai tanda kepemilikan.

"You follow the white-haired guy's orders, don't you? Kalau kalian punya nyali buat lawan sistem, sebagai langkah awal mulai aja dengan ngebebasin aku dari... hm, apa itu sebutannya, semacam 'cap dari yang mulia', gitu?"

"Sebagai gantinya, aku nggak keberatan kalau kalian mau manfaatin aku buat tujuan tertentu. Tentu, kalau itu memang perlu."

"Kau gila, bagaimana jika-"

Yoshitsune menyentil kepala Lyod. "Fokus."

Proses untuk menghancurkan berlian Yinxia jauh lebih berbahaya daripada yang ia tunjukkan melalui senyum santainya. Endorfin sengaja dibanjiri ke reseptor nyeri agar rasa sakit tidak memutus konsentrasinya. Kortisol ditekan dan diarahkan untuk mengurangi respons peradangan yang dapat meledak setelah jaringan terganggu. Adrenalin menegangkan otot di sekitar jantung dan paru-paru, menciptakan perlindungan biologis seadanya terhadap kemungkinan serpihan tajam.

Ia juga menurunkan metabolisme lokal di sekitar lokasi berlian melalui manipulasi hormon tiroid. Perbedaan temperatur ekstrem bisa menghancurkan sel bila tubuhnya tetap hangat sementara Lyod membekukan benda asing itu dari dalam. Semua pengaturan tersebut bukan jaminan keselamatan. Itu hanya usaha memperkecil jumlah cara ia bisa mati dalam beberapa detik berikutnya.

Anehnya, fakta bahwa berlian itu berkilau indah tidak pernah menjadi masalah baginya. Jika Yinxia menawarkan benda tersebut sebagai aksesori dan meminta izin, mungkin Helvetica akan menganggapnya lucu. Yang membuat bulu kuduknya berdiri adalah kepemilikan yang dipaksakan—benda yang ditanamkan dalam tubuhnya seolah dirinya rak pajangan untuk selera orang lain. Karena itu penghancurannya bukan sekadar melarikan diri. Itu adalah pernyataan bahwa tubuhnya masih menjadi satu-satunya wilayah yang ingin ia klaim sendiri.

Lyod memejamkan mata. Medan dinginnya dipersempit pada berlian saja. Sebuah sangkar es tak kasatmata terbentuk di dalam tubuh Helvetica, mengisolasi benda asing itu dari jaringan lunak.

"Aku tidak ingin memanfaatkan makhluk lain seperti para tirani itu lakukan," katanya. "Jika memang kau ingin balas budi, pastikan kamu menjadi rekan yang baik untuk Yoshitsune-san dan diriku."

Ia memberi tekanan pada titik tepat di atas berlian.

Benda itu retak.

Menjadi butiran.

Hancur di dalam sangkar es tanpa menusuk organ di sekelilingnya.

Lyod menarik tangan dan menonaktifkan Arcana.

"You're free now."

Helvetica menghela napas perlahan. "No hesitation at all, huh?"

Tidak jauh dari mereka, Yoshitsune mengangkat senapan yang baru terbentuk dari Arcana.

"Dategumi no mamori shimouro yo. Keiyaku no moto Yoshitsune ga meijiru, open the seal."

Ia menembak pintu besi beroda di ujung terowongan. Ledakan vakum menghancurkannya, membuka tunnel lain yang menurun tajam ke bawah.

"LYOD, CEPAT BAWA ABANG BARUMU KE SINI!"

Yoshitsune meluncur masuk lebih dulu.

"LYOD, HAYAKU!"

Lyod memelototi lubang itu. "ARKKHHH, KONO KUSO KITSUNE!"

Ia meraih tangan Helvetica.

"Ayo."

Keduanya menyusul Yoshitsune ke jalur bawah tanah.

Sebelum benar-benar menghilang, Helvetica sempat menoleh ke pintu yang telah hancur. Jejak mereka memang terlalu jelas.

Ia tersenyum kecil dan tetap melanjutkan perjalanan.

***

Beberapa menit kemudian, Inspektur Kimberly Hawkins berdiri di mulut terowongan bersama sejumlah polisi.

Kimberly tidak benar-benar menikmati ide masuk sendirian ke terowongan yang bau dan lembap. Tetapi ia lebih tidak menyukai pencarian yang berhenti hanya karena semua orang di timnya menunggu orang lain menjadi yang pertama mengambil risiko. Pengalaman sebagai anak panti yang sering melarikan diri justru membuat atmosfer tempat itu terasa anehnya familiar. Kegelapan, dinding lembap, dan lorong yang seolah tidak ingin orang tahu ke mana ujungnya pernah menjadi bagian dari banyak kenakalan masa kecil.

Ketika menemukan Kaizer, kesan pertama yang diterimanya bukan ancaman, melainkan seseorang yang pikirannya sedang berada jauh dari tubuhnya. Polisi sering bekerja dengan Organization 7, dan ia mengenal anak Ian Maverick itu dari jaringan informan serta nama-nama yang bergerak di sekitar Andrea. Kimberly memilih tidak memaksa jawaban. Seseorang dengan sorot mata kosong seperti itu biasanya lebih membutuhkan ruang untuk kembali sadar sebelum diinterogasi.

"Simpan keberanian kalian untuk berjaga di luar," katanya. "Aku akan masuk sendiri. Jika aku butuh bantuan, kalian cukup pastikan tidak ada yang keluar dari sini lebih dulu dari aku, mengerti?"

Senter menembus kelembapan dan bau busuk. Kimberly berjalan semakin dalam sampai menemukan seseorang yang tampak linglung.

Ia menepuk bahu Kaizer.

"Nak, apa yang sedang kau lakukan di sini sendirian?"

Kaizer baru tersadar setelah obat penenang bekerja.

"Ah, apa kamu tadi menanyakan sesuatu? Maaf, aku sebelumnya tidak mendengarkan. Bisa kamu ulangi lagi? Selain itu, apa yang sedang dilakukan inspektur polisi di sini, Nona Kimberly?"

Sebelum Kimberly menjawab, suara tembakan dan isak terdengar dari kedalaman lain.

Ia mengangkat senter dan senjata.

"Siapa di sana!?"

Di saat yang sama, Cain dan Lucien sudah memilih rute berlawanan dan meninggalkan terowongan dengan sepeda motor.

***

Di Der Himmel, pagi bagi para penghuni Averion baru saja dimulai.

Anak-anak memenuhi ruang makan dengan suara ribut. Hymn berusaha membuat mereka duduk teratur sambil sesekali melirik televisi yang menyiarkan kebijakan pengembalian budak Terra.

"Henry," panggilnya. "Kapan kau akan menyerahkan budak itu kembali?"

Henry masih membelakangi televisi, sibuk dengan buku catatan dan dokumen.

"Mhm, yeah, nanti."

Violetta memang seharusnya diserahkan. Namun selama berhari-hari, perempuan Terra itu hampir tidak terlihat.

Di lantai dua, Mikaela sudah berdiri di depan pintunya sejak beberapa menit lalu.

Tok. Tok.

"Kak Violet, waktunya sarapan. Kakak pasti sudah sangat lapar, kan? Oh, atau mau mencoba kue buatanku? Aku tidak akan berhasil tanpa saran dari kakak lho!"

Tidak ada jawaban.

Mikaela masih mengingat hari ketika ia menemukan Violetta tergolek pucat di kamar mandi. Saat itu ia menganggapnya kelelahan. Keesokan harinya, Terra itu masih bekerja seperti biasa, hanya lebih sering melamun. Kemudian makanan mulai tidak tersentuh. Ia bolak-balik ke kamar mandi, semakin banyak diam, dan buku yang selama ini menjadi jembatan komunikasinya berubah menjadi halaman penuh garis tak beraturan.

Buku itu sebenarnya salah satu hal yang paling disukai Mikaela dari Violetta. Tulisan tangannya rapi. Gambar-gambarnya sederhana tetapi cukup untuk membuat anak-anak memahami apa yang ia maksud tanpa perlu suara. Mikaela pernah memujinya berulang kali, berharap anak-anak akan berhenti takut dan mulai menganggap perempuan itu sebagai seseorang yang bisa mereka dekati. Namun sekarang buku itu tampak seperti benda milik orang yang berbeda.

Ketika Hymn mengatakan pintu kamar tidak memiliki kunci, kekhawatiran lain langsung muncul. Mikaela baru sadar bahwa privasi Violetta selama tinggal di panti sepenuhnya bergantung pada apakah anak-anak mau mematuhi larangan orang dewasa. Sebagai sesama perempuan, gagasan itu terasa salah. Apa pun yang terjadi di balik pintu, ia mendadak takut bahwa mereka sudah terlalu terlambat memperhatikan.

"... Kalau Kakak tidak sedang ingin bekerja hari ini, tidak apa-apa kok. Kita bisa melakukan sesuatu yang lain. Aku bisa bilang ke Paman dan Bibi. Jadi tolong biarkan aku masuk dan memeriksamu, ya?"

Tetap sunyi.

Mikaela memutar gagang pintu. Tidak bergerak.

Ia mundur untuk mengambil ancang-ancang.

Satu.

Dua-

"Mika?"

Hymn datang dari ujung koridor.

"Eh? O-oh begitu ya..."

Hymn mencoba pintu itu dan mengernyit. "Sepertinya dihalangi sesuatu dari dalam. Kalaupun kau dobrak pasti kau yang terjatuh."

Mikaela memandangnya. "B-berarti anak-anak bebas masuk ke kamarnya dong?"

"Hm? Iya. Tapi memang ada yang mau masuk ke kamarnya? Aku juga menyuruh anak-anak agar jangan masuk, dan semuanya menurut."

Mikaela terlihat makin cemas.

"... Dia pernah pingsan di kamar mandi. Bi. Dia juga sering muntah dan tidak mau mengurus diri maupun menyentuh makanannya beberapa hari ini. Kalau dia terus seperti itu, dia akan..."

Hymn berhenti.

Firasat buruk membuatnya menendang pintu.

Brak!

Pintu bergeser sedikit. Dari celahnya terlihat sebuah meja menghalangi dari dalam.

Anak-anak mulai berdatangan karena suara gaduh. Hymn memerintahkan mereka menjauh.

"Satu... dua!"

Tendangan kedua menggeser meja cukup jauh sampai pintu terbuka.

Henry muncul di belakang mereka. "Hey, hey, ada apa berisik-berisik? HOI. Ada apa ini?! Aah, pintunya.... Kenapa sih? Ada masalah apa? Terra itu menjengkelkanmu?"

Tidak ada yang menjawab.

Mereka bertiga melihat ke dalam kamar.

Di dalam kamar, kursi-kursi disusun berderet di bawah tali yang menggantung dari langit-langit. Boneka beruang dengan perut robek tergeletak di lantai, kapasnya tersebar seperti isi tubuh yang dikeluarkan. Violetta memunggungi pintu, seolah keributan Hymn, Mikaela, dan Henry tidak lebih penting daripada sesuatu yang ada di pangkuannya.

Anak laki-laki bersurai emas itu menggeliat pelan lalu membuka mata. Tangannya menggenggam gagang gunting berkarat. Violetta menundukkan dahi hingga bertemu dahi kecilnya, membiarkan jemari anak itu menyentuh wajah dan memainkan rambutnya. Senyuman yang muncul adalah senyuman seorang ibu, hangat sampai terasa menyakitkan melihatnya di tengah ruangan yang sudah menyiapkan kematian.

Violetta selalu menyukai anak-anak. Tetapi anak-anak di panti diajari menjaga jarak karena dirinya Terra. Mereka menolak disentuh, bersembunyi ketika ia mendekat, dan memandangnya sebagai sesuatu yang tidak seharusnya berada di rumah mereka. Karena itu, dalam pikiran Violetta yang sudah lama retak, bocah ini terasa seperti jawaban Tuhan: bukan datang sebagai cahaya dari langit, melainkan sebagai malaikat maut kecil yang akhirnya bersedia berada dalam pelukannya.

Ia tahu apa yang sedang direncanakan. Ia tahu apa arti tali di atas kursi. Dan ia tidak terlihat takut. Averion sudah terasa seperti neraka terlalu lama; kematian justru tampak seperti satu-satunya pintu yang masih bisa ia pilih sendiri.

Ia menoleh kepada mereka dan memberikan senyum tipis.

Senyum Violetta mengembang.

Ia tahu persis siapa yang sedang dipeluknya.

Malaikat mautnya sendiri.

Dan dalam pikirannya, tidak lama lagi ia akan terbebas dari neraka bernama Averion.

***

Kantor pemerintah Aeon jauh lebih ramai daripada biasanya.

Pemilik budak berdatangan untuk menyerahkan Terra mereka. Barisan manusia bertanduk berdiri di sisi terpisah, sebagian dirantai, sebagian diborgol, sebagian hanya berjalan dengan kepala tertunduk.

Di dalam sebuah taksi yang mendekati kompleks, Rindou memandang Frederic melalui sudut matanya.

"Yah, pada akhirnya aku baru boleh membawamu pergi setelah kita tidak akan bertemu lagi. Situasinya sedang tidak mendukung, ya?"

Ia tertawa kecil, lalu melirik Felicia di bangku belakang.

Seminggu terakhir mereka tinggal bersama Rin dan ibunya. Terlalu banyak hal terjadi untuk ukuran waktu sesingkat itu. Sekarang, karena aturan baru, Rin harus menyerahkan mereka kembali.

Bagi Frederic, seminggu itu cukup untuk merusak banyak asumsi yang ia bangun sejak jatuh ke Averion. Ia datang dengan keyakinan bahwa setiap Gale adalah ancaman. Ia sulit tidur karena Rin berada di rumah yang sama, memaksakan diri mengerjakan pekerjaan rumah hanya agar dapat membantu Riko tanpa perlu terlalu banyak berinteraksi, dan berkali-kali menafsirkan keramahan sebagai permainan untuk menurunkan kewaspadaannya.

Masalahnya, perlakuan baik yang diberikan Rin terus bertahan bahkan ketika tidak ada keuntungan langsung yang bisa dilihat Fred. Riko memperlakukannya seperti penghuni rumah. Rin menunggunya selesai bicara walau ia tergagap. Lelaki itu mendengar proyek game yang tidak sempat ia selesaikan, mengomentari desain yang ia tunjukkan, dan memberikan jenis perhatian yang selama ini sangat jarang diterima Fred dari orang lain.

Karena itu perjalanan menuju kantor pemerintah terasa lebih buruk daripada yang ingin ia akui. Ia tidak hanya takut pada pemerintah. Ia takut bahwa sesudah pintu ambulans tertutup, hubungan aneh yang baru terbentuk itu akan selesai begitu saja dan dirinya tidak pernah mendapat kesempatan menjawab kesepakatan yang masih menggantung di antara mereka.

Taksi berhenti.

Rin keluar lebih dulu. "Ayo, ikut aku."

Felicia melihat tanda AZ di punggung tangannya. "Ung... pimpin jalannya?"

Frederic lebih diam. Ia masih berharap Rin berubah pikiran, tapi ekspresi lelaki itu terlalu serius.

Saat mereka mendekati antrian, Fred meraih pergelangan tangan Rin.

"T-tunggu...!"

Rin mengangkat alis. "Kenapa? Apa kau merasa gugup? Mungkin kau harus mulai meniru sifat adikmu di saat seperti ini."

Ia melepaskan tangan Fred dan mengedarkan pandangan ke sekitar.

Masih ada sekitar lima belas menit sebelum giliran mereka.

Beberapa Terra di barisan lain tampak tidak terurus. Aparat menyeret mereka menuju ambulans yang akan membawa mereka untuk menghapus tanda kepemilikan.

Rin menoleh lagi kepada dua bersaudara itu.

"Jangan menatapku terus seperti itu, aku merasa jadi penjahatnya di sini. Kalau kalian berada di posisiku, apa yang akan kalian lakukan sekarang?"

Felicia menjawab lebih cepat.

"Jujur saja kalau aku di posisimu, uang yang diberikan akan langsung kupakai dan meninggalkanmu di sini sekarang juga."

Rin menyeringai tipis.

"Tidak tahu kau memang sesuka itu dengan uang atau tidak, tapi melihat slip gaji bulananmu kau tidak terlihat terlalu kurang uang. Ya, aku tidak tahu standar hidup di sini sih. Tapi kau malah sengaja mengulur waktu lima belas menit. Yang mana itu lebih dari cukup untuk siapa pun melarikan diri."

"Akh! Langsung ketahuan ya. Intuisi cewek memang menyeramkan~"

Fred menatap mereka bergantian. Ia menarik napas.

"Kalau itu aku, aku tidak ingin menyesali apa pun. Sama seperti Felicia, aku juga pasti akan meninggalkanmu di sini. Aku merasa tidak memiliki kemampuan untuk membawamu pergi dari tempat ini, dan aku juga tidak akan mampu menghadapi suatu kegagalan terbesar dalam hidupku...."

Alisnya bertaut menahan emosi.

"Kau membuat Averion tidak seburuk yang selama ini kupikirkan. Terima kasih... Rindou."

Fred tidak menyusun kata-kata itu sebagai pidato perpisahan. Kalimatnya muncul satu demi satu karena waktu semakin sedikit. Ia bahkan tidak yakin Rin akan menganggapnya serius. Namun jika ini memang terakhir kalinya, ia tidak ingin pulang ke kematian dengan satu-satunya hal yang tersisa hanyalah penyesalan karena terlalu takut mengatakan terima kasih.

Ia menyebut Rin sebagai inspirasi protagonis bukan untuk menggoda. Dalam kepalanya, protagonis bukan sosok tanpa cela. Protagonis adalah seseorang yang terus bergerak meski keputusan mereka sering salah, seseorang yang membuat pemain ingin mengikuti perjalanan sampai akhir. Ironisnya, Fred baru menyadari gambaran itu setelah dirinya sendiri kehilangan kesempatan menyelesaikan game yang bertahun-tahun menjadi tempat persembunyian dari dunia nyata.

Rin terdiam.

Fred tersenyum tulus. "Kau punya segalanya sebagai inspirasi tokoh protagonis dalam ceritaku, seandainya aku sempat menyelesaikan proyek game-ku dan menunjukkan desain finalnya padamu. Kurasa hanya itu yang bisa kuberikan padamu."

Rin menganga beberapa detik, lalu tertawa.

"Kalian berdua ternyata lebih kejam dariku, ya."

Ia berjalan mendahului mereka.

"... Jangan khawatir, kau tidak akan mati."

Giliran mereka tiba.

Petugas memeriksa tanda Felicia tanpa masalah. Ketika sampai pada Fred, mereka kebingungan karena tidak menemukan tanda yang terlihat.

Rin menyeringai.

"Kalian perlu melepas bajunya terlebih dulu. Tanda yang kuberikan padanya sedikit istimewa. Tapi kurasa tidak perlu adanya pertunjukan seperti itu yang pastinya membuat pengunjung tidak nyaman, bukan?"

Fred langsung memerah dan mundur.

Petugas akhirnya memilih tidak memperpanjang. Keduanya diborgol dan diarahkan menuju ambulans.

"Jangan tegang begitu, Kak," bisik Felicia.

"Kamu saja yang terlalu santai, Fel."

Fred melirik ke belakang.

Rin masih berdiri di tempatnya dengan imbalan pembayaran di tangan.

Seketika Fred berhenti.

Ia menginjak kaki salah satu pengawas dan mendorongnya jatuh.

"Let the seal open, and with it - my light becomes yours to guide!"

Sigil bercahaya menyerap pencahayaan sekitar. Kegelapan menyelimuti area.

"Waktu kita tidak banyak!" teriak Felicia.

Ia keluar dari sisi lain ambulans, masuk ke kursi pengemudi dan mengunci pintu. Borgol di tangannya membatasi gerak, tapi ia tetap meraih kemudi.

Rin melongo.

"Apa mereka... sudah gila?"

Fred berlari ke arahnya dalam kegelapan.

Rin merebut pistol salah satu petugas.

"Biar aku saja yang urus."

Fred merentangkan tangan mencari posisinya. Rin menariknya mendekat.

"Sayang sekali tanda pada tubuh mereka akan dihapus. Aku harus memberikan sesuatu yang lebih membekas."

Tangannya menyentuh wajah Fred, meraba taringnya, lalu mengunci bibirnya dalam kecupan tergesa sebelum cahaya kembali.

Fred kehilangan fokus sekejap.

Rin menarik kerah bajunya dan menodongkan pistol agar situasi tampak seperti penangkapan.

"Aku tahu kau sedang bersemangat hari ini. Tapi aku hanya akan mengizinkanmu mengemudi selama tujuan kita adalah rumah sakit. Oke?"

Ia menyeret Fred masuk ke ambulans.

"Baik sekali diriku melakukan semua ini tanpa dibayar. Kalau kalian tidak percaya padaku, kalian sudah tahu siapa yang harus dihubungi, kan?"

Rin menutup pintu belakang dan memberi isyarat kepada Felicia.

Ambulans melesat meninggalkan kantor pemerintah.

"Kau pasti berpikir kita gila ya?" ujar Felicia dari depan. "Ya boleh saja berpikir seperti itu, tapi justru di mata kita, kalianlah yang gila."

Rin mendengus. "Tidak sulit untuk sekadar mengucapkan terima kasih. Aku lebih menghargainya."

"Aku kan cuma nanya. Ngomong-ngomong rumah sakit ke mana ya?"

"Di pusat kota."

Rin mencoba menghubungi Andrea. Jaringan buruk.

Ia akhirnya merekam pesan suara dengan nada yang sengaja dibuat dramatis.

"Bos... bad news. Sepertinya aku terpaksa ambil cuti lagi hari ini... J-jika sesuatu nanti terjadi padaku, berjanjilah kau akan menjaga ibuku. Bilang padanya aku mencintainya d-dan-"

Rekaman diputus sebelum selesai.

Felicia melihat dari spion. "Kau... sengaja mau buat Sir Andrea mati muda ya."

Ambulans terus melaju.

***

Di meja administrasi kantor pemerintah, seorang Gale berkacamata mulai kehilangan kesabaran.

Harvey Lockhart membaca laporan pengumpulan yang tidak cocok dengan angka lapangan.

"Sudah pukul segini, berapa banyak yang sudah dikumpulkan?"

"Kurang-lebih seratus dua puluh."

"Masih kurang banyak. Itu bahkan tidak sampai lima persennya!"

Seorang staf datang. "Pak, budak yang terhitung sudah mencapai tiga ratus tetapi data laporan hanya seratus dua puluh. Mungkin itu masalahnya."

"Hoo, hanya diserahkan tanpa dilaporkan."

Harvey keluar ke lapangan dan membuka Arcana broadcast.

"Eeemm tes, tes. Apa ini menyala? Yahooo...? Eh udah nyala? Bilang dong."

Ia berdeham. Wajahnya berubah serius.

"Kepada rakyat ras Gale, yang belum menyerahkan budak mereka sesuai peraturan pemerintah terhitung dua belas jam sistem setelah pengumuman kemarin, diharapkan untuk menyerahkan budak mereka segera. Dan untuk mereka yang merasa telah menyerahkan budak mereka dan belum mendapatkan imbalan, maka berarti pengumpulan belum dilaporkan kepada petugas. Harap segera melapor dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."

Ia kembali ceria.

"Kecuali kalian mau rugi sudah lepas budak dan tidak dapat reimburse, ya~ bye bii~"

Broadcast berhenti.

Tidak lama kemudian Genevieve Ravencourt datang membawa tiga Terra yang menjadi tanggungannya: Kayn, Fern, dan Harvey Tigaratustrilliun - budak dengan nama yang kebetulan sama seperti petugas pemerintah.

Harvey Tigaratustrilliun menggunakan perjalanan menuju kantor pemerintah untuk menilai kegagalan negara secara menyeluruh. Menurutnya, pajak tinggi seharusnya menghasilkan udara yang lebih baik, taman yang lebih keren, dan jalan yang tidak dipenuhi asap knalpot biadab. Jika tidak, maka satu-satunya penjelasan yang layak adalah korupsi. Dari sana pikirannya melompat pada hal yang jauh lebih penting: bagaimana ia kelak akan melamar Genevieve dengan cara paling keren dan menjadikan wanita itu heroine utama dalam kisah hidupnya sendiri.

Sebagian besar pidato itu hanya hidup di dalam kepala, yang untungnya membuat Fern tidak segera memakai selotip. Namun ketika ia melihat Harvey Lockhart—petugas pemerintah dengan nama yang sama—harga dirinya terusik. Dalam logika Tigaratustrilliun, keberadaan dua Harvey hanya bisa berarti satu pihak meniru pihak lain. Dan tentu saja bukan dirinya yang palsu.

Fern sudah mengantisipasi perkembangan tersebut. Selotip di sakunya bukan candaan. Ia tahu hanya ada sedikit hal di Averion yang benar-benar dapat menghentikan Harvey ketika mulutnya sudah memutuskan berlari lebih cepat daripada akal sehat.

Lucien sedang memiliki urusan lain sehingga semuanya diserahkan kepada Gin.

"Ah, tolong jaga jarak sekiranya satu meter dariku," ujar Genevieve kepada mereka.

Harvey Lockhart memeriksa data.

"Hmm... untuk Genevieve ada tiga. Kayn, Fern... oh yang satu ini namanya sama denganku, ha ha ha."

Tawanya terdengar terpaksa.

"Baik, kondisinya bagus, tandanya juga bisa dilihat."

Lalu ia menemukan catatan lain.

"Ekhem. Maaf, Madam. Menurut data ada salah satu budak yang termasuk ke dalam nama sanak terdekat Anda. Apa tidak dibawa juga?"

"Maaf untuk yang satu itu, Tuan Harvey. Dia sudah ada di luar wewenangku. Pihak panti asuhan tidak mau memberikannya."

Violetta.

Harvey menelengkan kepala, lalu mengangkat bahu. "Panti? Masalah di mana budak mereka bukan urusanku selagi dikembalikan sesuai aturan."

Kayn yang sejak tadi diam menoleh kepada Genevieve.

"Saya senang bisa melihat Anda tersenyum, Nyonya Genevieve."

Wanita itu terkejut karena Kayn jarang banyak bicara.

"Semoga senyum itu selalu kekal dan menjadi kabar gembira bagi saya."

Genevieve memberikan senyum cerah.

"Oh, Bunny. Jagalah dirimu. Bila ada kesempatan, aku akan membawamu kembali."

Petugas membawa Kayn ke barisan Terra.

Tidak jauh dari sana, Sion datang bersama Leila.

"Nampak ini hari terakhirku bersama pekerjaan gratisku.... Nampaknya kuharus mencari pekerja Gale dan menggaji mereka."

Sion tidak sanggup terus membayar pajak. Toko jam miliknya adalah warisan dari pengasuh panti yang dianggapnya orang tua. Ia memilih mempertahankan toko daripada mempertahankan Terra.

Bagi Sion, pilihan itu tidak sesederhana ‘budak atau uang’. Toko jam adalah peninggalan orang yang ia anggap sebagai orang tua. Setiap rak, bunyi detik, dan benda yang diperbaiki di sana menjadi bukti bahwa hidupnya punya sesuatu untuk dipertahankan. Jika pajak membuat toko itu bangkrut, ia merasa bukan hanya kehilangan mata pencaharian, tetapi juga warisan terakhir dari rumah yang membesarkannya.

Itulah sebabnya ia terus meyakinkan diri bahwa menyerahkan Leila adalah keputusan rasional. Terra itu memang membantu banyak hal, bekerja tanpa menuntut gaji, memasak, dan mengisi hari-hari dengan pertengkaran kecil yang anehnya cepat menjadi kebiasaan. Namun bukankah justru karena itu ia harus berhenti sebelum ketergantungan berubah menjadi sesuatu yang lebih merepotkan? Uang lebih berharga. Toko lebih berharga. Setidaknya itulah kalimat yang terus Sion ulang untuk dirinya sendiri.

Leila menatapnya datar.

"Seharusnya Sion-sama jangan membeli budak bila membayar trial tidak mampu."

Sion menghela napas panjang. "Leila, kamu nggak bisa baca situasi ya."

"Anggap saja pertengkaran terakhir."

Kalimat itu justru terasa lebih menyakitkan daripada yang Sion duga.

"Le-"

Leila memotongnya. "Sampai jumpa."

Ia beranjak menuju barisan Terra.

Di sisi lain, Diana Whiterose datang bersama Ayane.

Diana sebenarnya merasa rugi. Ayane cukup berguna dalam misi mercenary; bersama Terra itu ia dapat mengambil pekerjaan yang lebih berbahaya daripada biasanya. Tetapi mempertahankan budak berarti mempertahankan pajak, dan mempertahankan pajak berarti mempertaruhkan legalitas usaha. Di antara loyalitas pada rekan kerja yang baru dan reputasi yang membuatnya tetap menerima kontrak, Diana memilih yang terakhir.

Ia datang dengan dokumen yang kelewat lengkap: biodata, keahlian, lokasi tanda di leher, aktivitas selama menjadi budak, hingga catatan eksperimen racun yang dilakukan atas permintaan Ayane sendiri. Harvey Lockhart justru memberitahunya bahwa nama dan sertifikat pembelian sudah cukup. Pemerintah, kata Harvey, tidak peduli apa yang pemilik lakukan pada budak mereka sebelum diserahkan.

Ayane menanggapi perpisahan itu seolah sedang menunggu pergantian permainan. Ia bertanya dengan antusias apakah setelah ini akan bekerja untuk pemerintah, dibebaskan, atau dilenyapkan. Senyum Harvey tetap profesional sementara mata kirinya berkedut. Dalam hati, ia hanya ingin pulang.

"Hnmmm... aku tak menyangka kalau akan mengembalikan budak yang sudah kubeli. Gimana perasaanmu, Ayane? Dengan ini kita akan berpisah."

Ayane melihat sekeliling, lalu menjawab ringan, "Hng? Aku tak merasakan apa pun. Bagaimana dengan perasaanmu?"

"Perasaanku? Yah jujur merasa rugi walau nanti dapat uang sih."

Mereka sudah menjalankan beberapa misi mercenary bersama. Diana tahu Ayane berguna, tetapi ia tidak mau kehilangan legalitas pekerjaannya.

Ayane tersenyum lebar. "Heee~ benarkah?"

Begitu tiba di meja Harvey, Diana menyerahkan dokumen yang sangat lengkap.

"Ini dia budakku."

Harvey membolak-balik berkas. "Kau tahu, Nyonya? Data nama dan sertifikat beli saja sudah cukup. Kita tak peduli bagaimana Anda menggunakan budak Anda."

Ayane melambaikan tangan dari jarak sekitar satu meter.

"Yahooo~ Ne, ne~ apa yang akan terjadi padaku setelah ini? Apakah aku akan bekerja untuk pemerintah? Kalian tak mungkin melepaskanku begitu saja, kan? Atau jangan-jangan kalian akan melenyapkanku? Ne, ne~ ayo beritahu aku, ahahahaha~"

Mata kiri Harvey berkedut.

"Soal itu, Terra... bukan urusanku."

Ia menyelesaikan administrasi. "Oke, administrasinya selesai, silakan diterima~"

Di dekat meja, Tigaratustrilliun sejak tadi menatap Harvey Lockhart dengan penuh penilaian absurd.

Akhirnya ia tidak tahan.

"Woi, Harvey anak biadab, kamu mau beradu pukulan denganku kah? Sampai bilang namamu mirip dengan namaku? Kau kira aku niru-niru namamu? Aku lebih ganteng darimu, sini kau kusembelih!"

Fern sudah memegang selotip sejak awal, tetapi kali ini belum sempat bertindak.

Harvey Lockhart menoleh dengan senyum yang semakin kaku.

"Open the seals for those who never listens."

Sebuah layar broadcast rusak muncul tepat di depan wajah Tigaratustrilliun. Suara jeritan memekakkan telinga membuat hampir semua orang refleks menutup telinga.

Harvey mengangkat tangan.

"Para Terra, berbarislah di tempat yang seharusnya kecuali kalian ingin kaki dan tangan kalian dilepas dari tubuh kalian."

Suara itu menggema di seluruh area.

Tigaratustrilliun akhirnya terdiam.

Fern tampak nyaris kecewa karena selotipnya belum digunakan.

"Yak maaf atas gangguannya! Silakan antrian selanjutnya!"

***

Jauh dari kantor pemerintah, rumah sakit pusat Aeon masih tertutup bagi publik.

Selama beberapa hari, gedung itu berada di bawah naungan proyek swasta. Lorong-lorong yang biasanya dipenuhi pasien kini dijaga orang-orang Rosenkrantz. Beberapa Terra dikurung menunggu giliran untuk sesuatu yang tidak pernah dijelaskan kepada mereka.

Di salah satu ruang tahanan, Jerlan duduk bersandar pada jeruji bersama Jack, Cordelia, Yua, dan beberapa Terra lain.

"Hei... apa kalian tahu kita akan diapakan di sini?" tanya Jack.

Jerlan terkekeh. "Entahlah, mungkin kali ini mereka mau menyuntik mati kita. Tapi kau tahu, aku bosan kalau nggak ngapa-ngapain. Mereka juga mencuri rokokku."

Ia menjulurkan lidah. Sebuah kawat tipis tersembunyi di mulutnya.

Jerlan mulai mengotak-atik gembok.

"Cewek-cewek di sana gapapa? Kayaknya cewek yang namanya Cordelia itu habis mengalami hari yang berat."

Cordelia hanya memberikan senyum tipis. Ia tidak tertarik bicara. Setelah apa yang dilaluinya sejak pelelangan, hidup dan mati terasa hampir sama.

Klik.

Gembok terbuka.

"HUP!"

Jerlan menendang pintu jeruji, merangkak keluar dan meluruskan punggung sampai sendinya berbunyi.

Ia mengobrak-abrik meja penjaga dan menemukan sebungkus rokok beserta pemantik.

"Nah."

Asap pertama keluar dari mulutnya.

Dengan Arcana, kamera-kamera CCTV di ruangan itu diremukkan.

Jerlan mendekati Cordelia. "Lu pengen banget ketemu Kaizer-Kaizer itu, huh? Lu mau gua bantu bebasin? Biar lu nggak penasaran aja sama orang itu."

Jack memandang pintu yang terbuka.

"Aku juga ingin bebas."

"Seal Open-"

Sigil muncul di sekitar borgolnya. Dengan satu sentakan, besi itu hancur.

"Kau pikir kapan mereka akan mengecek tempat ini?"

"Kalau mereka mengawasi CCTV, sepertinya sebentar lagi juga datang."

Cordelia akhirnya mengangkat kepala.

Tawaran Jerlan mengenai Kaizer membuatnya mengubah keputusan.

Ia menggigit bibir sampai berdarah.

"I shall perform this final blow as a parting gift to you. I will tell you of the beginning. Heaven and Earth split, nothingness praised creation, my blood of Rupture cleaved the world. Mortar of the stars, heaven's hell is the eve of creation's celebration. Now you shall die and be silent... Open the seal."

Kartu bergambar iblis merah muncul dan meleleh menjadi puluhan bola darah.

"Key."

Salah satunya berubah menjadi kunci dan membuka borgol.

Cordelia berdiri. "Risiko tanggung masing-masing, ya."

Pintu ruang tahanan terbuka.

Xavi masuk membawa kantong makanan.

Ia berhenti.

".... Baru juga ditinggal bentar."

Cordelia menghampirinya. "Bolehkah saya bertemu Tuan Muda Kaizer sebentar? Saya berjanji pasti kembali dan tidak akan kabur. Jika Anda tidak percaya, Anda boleh mengikuti saya, Tuan Penjaga."

Xavi menempelkan telunjuk ke bibir Cordelia.

"Eits... tidak dulu, Nona. Bukan aku yang bisa memberikan izin."

Ia menarik kursi ke depan pintu dan duduk.

Suara mantra lain terdengar.

"Open the seals, give me back what was mine."

Borgol dan jeruji bergetar keras. Gio masuk sambil memainkan jemarinya. Besi-besi terlepas dan terlempar, beberapa sengaja dibenturkan ke tubuh Terra.

"Kalian punya waktu lima detik," katanya. "Kecuali kalian mau mati sia-sia di sini."

Xavi menoleh. "Nahh ini! Ke mana aja lu? Kalau jaga mereka yang bener lah, main ilang aja."

Gio mendelik. "Hah? Lu ngomong apa sih? Gua emang di sini dari tadi tapi gua bukan ngurusin mereka. Yang ngejaga mereka mana, kenapa malah elu?"

Jerlan tidak menunggu mereka selesai berdebat.

"Lima detik sebenarnya sudah cukup untukku."

Ia menendang jendela sampai pecah, menggantung pada kusen, lalu mengayunkan tubuh menuju jendela lantai bawah.

Jack ikut.

Cordelia tetap di tempat.

Gio menggerakkan tangan lagi. Jeruji besi menutup jendela setelah keduanya lolos.

"Saat kubilang lima detik artinya kembali ke tempat kalian atau mati. Tapi memang ada bilang mati di tanganku?"

Ia berbalik kepada Xavi. "Gue nggak ada urusan di sini. Sana urusin mereka, jangan sampai kabur."

Gio pergi lagi menyusuri rumah sakit.

Ia sedang mencari sesuatu yang lain.

***

Di sebuah ruang pasien, Tae Kiyose membuka mata setelah berhari-hari tidak sadar.

"Akhirnya kau bangun! Aku baru saja kepikiran untuk menguburmu hidup-hidup karena kau tidak bergerak sama sekali!"

Hyde Amador membantu Tae duduk.

Ia menyibak tirai dan menunjukkan cermin.

"Bagaimana perasaanmu? Aku harus segera membawamu ke Don - dia akan senang sekali mendengar kabar darimu! Apa kau menyukai penampilanmu yang sekarang?"

Tae menatap pantulan dirinya.

Ingatan operasi kembali sebelum Tae sempat memahami wajah baru di cermin. Ruang bedah masih hidup di belakang matanya: lampu putih yang terlalu terang, suara mesin, bau darah, dan tangan-tangan yang terus bekerja meskipun ia sudah memohon agar semuanya berhenti. Rasa sakit ekstrem itu tidak dibungkam sepenuhnya oleh anestesi karena prosedur justru berlangsung dengan cara yang membuat tubuhnya mengingat setiap sayatan. Pereda nyeri diberikan setelah semuanya selesai, ketika trauma sudah lebih dulu menancap sebagai pengalaman yang tidak bisa dicabut hanya dengan obat.

Hyde dan Dorian bukan sekadar nama dokter di kepalanya. Mereka sudah menjadi wajah dari ruangan yang membuat kematian terdengar lebih masuk akal daripada hidup. Tae masih bisa mengingat bagaimana pikirannya berusaha memisahkan diri dari tubuh agar rasa sakit terasa seperti milik orang lain. Kini, ketika pantulan menunjukkan sayap putih dan taring yang tumpul, ia merasa seperti sedang melihat konsekuensi konkret dari semua yang mereka lakukan saat dirinya tidak punya kuasa untuk menolak.

Anehnya, ia tidak merasa sedang melihat orang asing. Wajah itu masih dirinya. Mata, garis rahang, dan rambutnya masih mempertahankan sesuatu yang dikenali. Justru itulah bagian paling mengganggu: perubahan tersebut cukup besar untuk menghapus identitas rasnya, tetapi cukup halus untuk membuatnya tetap sadar bahwa tubuh yang telah dimodifikasi itu adalah tubuhnya sendiri.

Cakar yang dulu dimiliki Terra sudah hilang. Taringnya memendek dan menumpul. Di punggungnya tumbuh sepasang sayap berbulu putih.

Wajahnya tetap wajah Tae, tetapi lebih segar, lebih hidup, dan tak lagi menunjukkan ciri fisik ras asalnya.

Ia kini adalah seorang Gale.

Sensasi asing tiba-tiba menyerang dada.

"Ugh...."

Tae mencengkeram pakaiannya di atas jantung. Tubuhnya terasa seperti diaduk dari dalam.

"Jangan khawatir... kau akan mulai terbiasa," gumam Hyde.

Ia mengelus pipi Tae. Gadis itu menepisnya.

Hyde mengambil jarum suntik dan tanpa izin menyuntikkan obat penenang dosis rendah ke lengan Tae.

"Aku pernah berjanji memberikanmu hadiah, bukan? Rasa penasaranmu yang menggelitik akan membuatmu tetap terjaga di tengah rasa kantuk."

"Aku tidak butuh!" Tae menarik lengannya. "Kalian sudah selesai, kan?! Biarkan aku keluar dari sini!"

Ia mencoba berdiri, tetapi lututnya goyah.

Pintu ruangan terbuka.

Gio masuk.

Ia berhenti melihat Tae.

Tanduknya hilang. Cakar dan taring Terra sudah tak ada.

"... Hoo, jadi rencananya sudah dilaksanakan. Eksperimen gila."

Hyde tidak menjawab pertanyaannya. Sebaliknya ia menyeret Tae ke sudut ruangan tempat sebuah kotak gitar berbau busuk diletakkan.

"Aku sudah menyiapkannya sejak satu minggu yang lalu, jadi tidak usah malu-malu."

Kotak itu dibalik.

Potongan tubuh Yuuya jatuh ke lantai. Dagingnya telah membusuk, kulit menghitam, belatung bergerak di antara luka. Kepala masih relatif utuh.

Bau yang selama ini bertahan di sudut ruangan akhirnya memiliki bentuk. Kotak gitar itu sudah berada di sana sejak sebelum Tae sadar, dan Hyde sengaja menyimpannya sebagai sebuah kejutan. Ia tidak memedulikan perubahan warna kulit, lalat, atau belatung yang memenuhi luka. Di matanya, semua itu hanyalah bagian dari panggung yang membuat reaksi Tae nanti menjadi lebih menarik.

Tae mengenali Yuuya. Bukan karena kepalanya masih utuh, melainkan karena ingatan yang mereka bangun terlalu dekat untuk hilang hanya karena tubuhnya sekarang berbeda. Lelaki itu kembali ke area pelelangan ketika ia seharusnya bisa pergi. Ia menempatkan dirinya di antara Tae dan bahaya. Ia mempercayainya cukup jauh sampai sosok Yuuya menjadi salah satu sedikit hal di Averion yang membuat Tae merasa tidak sendirian.

Namun respons yang muncul sekarang tidak sesuai dengan memori tersebut. Sebelum kasih sayang sempat mengambil bentuk, naluri tubuh Gale-nya sudah lebih dulu memberi label: Terra, kotor, menjijikkan. Air mata yang jatuh terasa seperti bagian lama dari dirinya yang tidak setuju, sementara suara yang keluar justru memerintahkan Hyde menyingkirkan bangkai itu. Konflik tersebut tidak membuat Tae sadar bahwa doktrin operasi bekerja. Ia hanya merasakan kekosongan yang semakin luas.

Hyde mengangkatnya seperti piala.

"Kau tidak kelihatan senang - tapi setidaknya aku tidak berbohong soal ingin mengejutkanmu, bukan?"

Sayap Tae mengembang refleks.

Ia menampar tangan Hyde sampai kepala Yuuya jatuh dan menggelinding.

"Apa maumu sampai menunjukkan bangkai Terra padaku?"

Air mata jatuh di pipinya, tetapi nada suaranya dingin.

"Singkirkan itu."

Naluri barunya bergejolak.

"... biarkan Terra merasakan sakitnya..." gumam Tae berulang-ulang, menirukan kalimat yang ditanamkan selama operasi.

Hyde menyeringai puas.

"Oh, darling. Tujuanku simpel, membuatmu lebih kuat, lebih menarik-"

Kakinya menghancurkan kepala Yuuya.

"-dan patuh kepadaku."

Gio mengangkat alis.

Ia membuka tiga kancing kemeja dan memperlihatkan tato mawar biru di dada kanan. Hyde menarik kerah dan choker-nya, memperlihatkan tato yang sama.

Gio menyipit.

"Kau bukan orang di bidang medis tapi nampaknya kau bahagia sekali ada di sini. Kurasa di mana pun bagimu baik selagi Don Sylverill tidak mengincar kepalamu."

Ia menatap Hyde. "Aku tak akan mengganggu sesi memuaskan diri dengan fetish anehmu, kecuali kau memberitahu apa yang kumau. Jika kau menolak, aku bisa dengan mudah menyerahkanmu ke Sylverill. Either way, I got what I want anyway. Jadi, kau mau bicara?"

Hyde tertawa kecil. "Fine. We'll talk."

***

Di lantai lain, Jerlan dan Jack bergerak melalui lorong kosong.

"Aku Jack. Dengan nama belakang Liston. Dan kau?"

"Jerlan. Liston? Aku seperti pernah mendengarnya."

Mereka menemukan sebuah ruangan terkunci.

Jerlan berhenti di depannya. "Bro, I need to open this door."

Jack memegang gagang. "Kau yakin? Kau tidak ingin pergi dibanding sembunyikan?"

"Buka saja."

Jack membuka segel.

"The mist of dawn, behave yourself, Seal Open - Dynamic Impact!"

Gelombang kejut menghantam pintu sampai engselnya lepas.

"Well done, bro," kata Jack polos.

Jerlan menatapnya datar lalu masuk.

Ruangan itu menyerupai laboratorium biologi molekuler. Centrifuge, rak tabung reaksi, alat ekstraksi, dan meja autopsi tertata rapi.

Jerlan tidak membuka pintu karena rasa ingin tahu yang bodoh semata. Ketika mereka berlari di koridor kosong, sekilas ia melihat sesuatu melalui kaca yang tidak cocok dengan suasana rumah sakit yang seolah ditinggalkan. Gagang pintunya lebih bersih dibanding pintu lain, debu pada lantai tidak merata, dan ruangan di baliknya memiliki cahaya yang membuat peralatan stainless terlihat masih digunakan. Itu cukup untuk membuatnya berhenti meskipun seluruh naluri bertahan hidup menyuruh terus berlari.

Jack sempat bertanya untuk apa tabung APAR yang dibawanya, lalu beberapa saat kemudian justru benda itulah yang membantu mereka mengacaukan jalur tembakan. Di tengah bahaya, dua orang yang baru mengenal nama satu sama lain itu dengan cepat membangun ritme yang aneh: Jerlan cenderung memperhatikan detail dan membuat hipotesis, sedangkan Jack bergerak lebih dulu dan baru bertanya setelah pintu hancur.

Di salah satu ranjang terdapat mayat Gale.

Jerlan membuka laci dan menemukan dokumen.

"Kau tahu apa artinya ini, Jack?"

Jack melihat sekeliling. "Kita akan praktikum?"

"Bukan, bodoh."

Jerlan menunjukkan identitas mayat.

"Ini data dan identitas dari mayat yang gigi dan tulangnya sudah diambil. Dia seorang Gale yang tewas satu minggu lalu karena kecelakaan. Dan ini surat resmi kematiannya. Ia seharusnya sudah dimakamkan tepat di hari ia tewas. Tapi kenapa mayatnya masih di sini dengan beberapa bagian tubuh sudah diambil?"

Ia menunjuk peralatan.

"Itu instrumen laboratorium biologi molekuler untuk ekstraksi partikel DNA. Singkatnya, sepertinya ada seseorang - sekelompok orang - yang diam-diam menggunakan rumah sakit besar ini untuk melakukan pencurian DNA dari mayat-mayat Gale secara ilegal. Mereka juga mencuri mayat Gale tanpa izin. Ini tindakan kriminal terhadap sesama ras mereka sendiri."

Jack memeriksa dokumen dan mayat. Bagian sayapnya juga hilang.

"Tunggu dulu. Pelelangan, mayat, rumah sakit, DNA? Apa mereka sedang melakukan rekayasa genetik? Dan... untuk apa semua ini?"

Wajahnya memucat.

"Apa yang ingin mereka lakukan pada Terra? Rumah sakit ini hanya ada mereka - mafia - lalu kita ada di sini. Menurutmu mereka akan apakan kita?"

Jerlan belum sempat menjawab.

Tembok di belakang mereka meledak.

Don Antonio Rosenkrantz berdiri di antara debu.

"Seal Open - I bestow upon you the weight of the kings."

Emas melapisi tangannya setebal baja.

Ia melesat.

Telapak tangannya meraih wajah Jerlan dan membanting tubuh Terra itu ke lantai.

"Impressive, Terra. How far you can go from now on?"

"KEPARAT! Sebenarnya buat apa kau melakukan semua ini!?"

Jerlan mengangkat tangan di depan wajah Don.

"Turning pain into strength! Open the seal!"

Padatan tajam melesat dari sigil.

Jack ikut menyerang.

"The moment is critical of chaos, misery and hardship so turn the tables, Seal Open - Reddening Flash!"

Dua tinju dengan ledakan tekanan menghantam dari sisi Don.

Sebelum serangan mengenai sasaran, es mengembang menjadi perisai.

Bunga-bunga kristal jatuh dari udara.

Pearl berdiri di ambang ruangan.

Pearl tidak datang untuk menolong dua Terra yang sedang melawan ayahnya. Sejak memasuki rumah sakit, ia hanya berusaha mengejar Antonio. Pengawal sempat menghadangnya di pintu dengan alasan keamanan, lalu suara kaca pecah dan tembakan mengubah seluruh gedung menjadi sesuatu yang lebih kacau daripada yang dikabarkan. Pearl sudah memberi perintah keras bahkan sebelum benar-benar memahami siapa yang mencoba kabur; belas kasih kepada Terra tidak pernah menjadi motivasi utamanya.

Yang membuat langkahnya semakin cepat adalah ketakutan yang belum pernah ia rasakan pada ayahnya. Don Antonio selalu menjadi pusat yang stabil dalam hidup Pearl. Bianca hanya hidup dalam potret dan cerita. Antonio adalah rumah, perlindungan, sekaligus alasan mengapa dunia bawah tanah tidak pernah terasa mengancam baginya. Namun mimpi buruk yang terus kembali membuatnya melihat satu kemungkinan yang tidak bisa ditoleransi: ayahnya dapat kalah oleh sesuatu yang tidak mengakui uang, nama, atau kekuasaannya.

"Hear my command - with this seal undone, let the frost cradle you in protection!"

Ia menatap ayahnya tanpa keangkuhan yang biasa menyelimuti wajahnya.

"Papa, sudah cukup. Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi."

Don memejamkan mata dan mengatur napas.

"My precious Pearl, kau membuat papamu ini terluka karena ada pria lain yang sekarang mengusik pikiranmu."

Ia melepaskan Jerlan dan berjalan mendekati Pearl.

"Mamamu tidak mati demi melihatmu menentangku di hadapan orang lain. Dia membahayakan nyawanya sendiri, dan aku - aku juga mengizinkannya. Mengapa aku mengizinkan semua itu terjadi?"

Senyumnya telah hilang.

"Ini adalah kesempatan terakhirmu. Kau tetaplah putriku dan kau tidak perlu tahu segala pelik yang kualami. Tapi aku tidak akan segan kali ini."

Jack memanfaatkan kesempatan.

"Jerlan, kita pergi!"

Ia menarik Jerlan, menghancurkan dinding lain, dan membawa dokumen yang mereka temukan.

"Kekejian ini tidak bisa mengubah mereka yang semena-mena terhadap kita. Kami memang Terra tapi kalian tidak berhak dengan pilihan kami sejak awal!"

Mereka menghilang ke koridor.

***

Di kantor pemerintah, Harvey Lockhart mulai menatap jam.

Ambulans berikutnya belum datang.

"Tsk, kalau mereka lebih lama lagi akan kubuang mereka ke jurang satu per satu."

Ia mengambil telepon dan menghubungi rumah sakit.

Tidak ada jawaban.

Sebaliknya, dari gagang telepon terdengar suara piano.

Satu nada.

Lalu nada berikutnya.

Semakin cepat.

Semakin tidak beraturan.

Dentingannya berubah kacau sampai tidak lagi terdengar seperti musik.

Suara petir menyambar.

Sambungan putus.

Seluruh staf memandang Harvey.

Ia menutup telepon perlahan.

Senyumnya menghilang.

Itu bukan gangguan sinyal biasa.

Ada yang tidak beres.

About Roleplayverse

This website tells the universes (up to omniverse) of each story that have been developed together since 2014, collected solely as part of a hobby.

© Roleplayverse. All rights reserved.